Aku membisu di pembaringanmu
Ingin menangis, menjerit, meronta
meneriakkan kepedihanku kepada semesta
Tapi tubuh ini terlalu lemah meski untuk bicara
Kerinduan tak terobati
pedih, perih, menyakitkan...
Ilmu adalah jubahku. Biarkan tubuh ini hanya dibalut kain lapuk. Tak akan malu diri ini! Cukup dengan ilmu, akan ku jelajahi dunia ini!
Sabtu, 20 Oktober 2012
Mata, Venus, dan Hujan
Mata, Venus, dan Hujan
#rrnm.- Bandung, Kiaracondong,
0805AM 10/15/12
Seorang lelaki muda duduk
termenung di tepian harapannya. Ia menatap langit tak henti-hentinya hingga
sebelah matanya seakan terbakar berwarna merah menyala dan sebelah lagi seperti
mati –pucat, gelap, hitam, kosong, tak bernyawa-.
Ia menatap langit dan berdoa
kepada Tuhan-nya, “Tuhan, mengapa hari tak kunjung hujan? Aku bosan dengan
panas ini, aku lelah dengan panas ini, aku hampir mati dan bahkan terkadang tak
sadar kalau aku masih hidup.”
Bukan Tuhan tak mendengar
doa-nya. Tuhan tahu, Tuhan maha Tahu. Ia mendengar dengan seksama setiap vokal
dan konsonan yang terucap dari lelaki muda itu, Tuhan membelai dengan tangan
kasih-Nya dengan iba seperti seorang Ibu kepada anaknya.
Hanya saja terkadang kita terlalu
naif untuk menyadari belaian kasih Tuhan. Kita terlalu bodoh untuk menyadari
rencana Tuhan. Kita terlalu ‘manusia’ untuk sekedar mensyukuri kehidupan kita.
Lelaki muda itu terus meratap dan
menatap ke arah langit.
“Awanmu sudah gelap Tuhan, tetapi
mengapa tak setetes-pun air yang menyentuh bumi ini dari langit-Mu yang maha
luas itu? Apakah bumi ini terlalu kotor sehingga hujan sekalipun enggan untuk
singgah menyentuh tanah-tanah merah ini?”
Tanpa disadari oleh lelaki malang
itu, sepasang mata cantik menatapnya dari jauh, mata cantik itu milik seorang
gadis cantik. Venus nama gadis itu. Namanya secantik dirinya. Wajahnya secantik
kepribadiannya. Venus, seorang dewi yang menjelma dan berdiri di atas tanah
merah ini.
Lelaki malang itu mencuri
pandangan sepasang mata cantik itu. Entah apa yang difikirkan oleh Venus, tapi
ia seperti melihat lelaki itu dari sisi lain kehidupannya, sisi lain dari
kepribadiannya, sisi yang sama sekali tak terlihat tapi ada dalam diri lelaki
itu. Venus memang seorang dewi! Tak diragukan lagi dari kebiksanaannya.
Tetapi Venus tetap menjaga
jaraknya dari lelaki itu. Sedikitpun ia tak mengambil langkah untuk sekedar
mencoba mencium bau kulit lelaki itu. Venus hanya mengawasinya dari kejauhan,
mencatat setiap gerakan kecil yang dilakukan lelaki itu dalam kebijaksanaannya.
Lelaki itu terus menatap,
meratap, dan melenguh memandang langit yang semakin gelap itu...
Entah sudah berapa kali Venus
berputar-putar mengelilingi lelaki itu dari kejauhan. Rerumutan dan tanaman-tanaman
yang ia lewati mati dan layu. Ia tahu tapi seakan tak peduli. Ia ingin sekali
mendekat tetapi ia tak tahu apakah lelaki itu sama seperti tanaman dan rumput
layu itu atau tidak. Ia tahu lelaki itu berbeda, tapi ia tetap takut untuk
hanya sekedar mengambil langkah untuk mendekat meski hanya satu inchi dari
tempatnya sekarang.
Langit semakin gelap
menyembunyikan matahari, tapi hujan tetap tak unjung turun. Sekarang kedua mata
lelaki itu benar-benar gelap dan mati. Lelaki itu berfikir buta lebih baik daripada
ia memiliki mata gelap yang tak bisa menitikkan setetespun air mata. Sekarang
ia meraung! Berteriak kencang ke arah langit sembari mengepalkan tinjunya.
Venus menangkap kejadian itu.
Alih-alih berlari mendekat, ia hanya berdiri, terdiam, menghentikan langkahnya.
Dan sekarang langkahnya menjadi tak teratur. Ia berjalan kesana kemari membuat
hampir semua tanaman yang ada disekitarnya dan yang di lalui-nya mati. Ia
menangis terisak.
Lelaki itu berhenti menengadah,
ia menundukkan kepalanya. Tapi sekejap, dari sudut matanya ia melihat sesosok
tubuh berselimut cahaya merunduk dan di sekitarnya tanaman-tanaman mati dan
layu.
Ia menatap sosok itu, tetapi
kecantikan itu menyadari tatapan mata gelap lelaki malang itu, kecantikan itu
memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah cantiknya dan berjalan semakin tak karuan. Kecantikan Venus itu sekejap
membuat lelaki itu lupa ia sedang menanti hujan.
Lelaki itu mendekat, sedkit demi
sedikit. Dengan hati-hati ia melangkah. Venus menyadarinya, itu memang yang ia
harapkan dan nanti-nantikan selama ini, tapi ia takut lelaki itu juga akan
bernasib sama dengan tanaman-tanaman yang layu dan mati itu.
Perang batin mendera Venus, di
satu sisi ia memang sudah merindukan wangi tubuh lelaki dengan mata gelap itu,
tapi di sisi lain ia pun takut! Ketakutan yang tak ia berikan kepada
tanaman-tanaman mati itu.
Venus mencoba berlari, tapi
ternyata lelaki itu sudah sangat dekat sehingga ia bisa mencium wangi tubuh
lelaki malang bermata gelap itu.
“Ya Tuhan, wangi ini memabukkan.
Seperti yang sudah aku duga sebelumnya.” pikir Venus.
Lelaki itu terpesona oleh
kecantikkan Venus, ia lupa tentang hujan yang ia nantikan.
Sekarang keduanya sudah sangat
dekat, mereka saling berhadapan. Kedua mata itu saling bertemu. Mata cantik
Venus menembus ke gelapan mata si lelaki kurus itu.
Tak satu patah kata-pun meluncur
dari mulut keduanya. Mereka hanya berdiri dan saling menatap. Menikmati
kerinduan yang sudah lama mereka nantikan. Kerinduan tak masuk akal yang
merasuk begitu saja, seakan mereka pernah bertemu pada kehidupan yang lain dan
di pertemukan kembali sekarang.
“Inikah yang semua orang
bicarakan? Inikah apa yang di sebutkan dalam kitab-kitab semua Agama yang ada
di dunia ini? Inikah yang mereka agung-agungkan dalam setiap lirik, prosa,
puisi dan lukisan? Inikah yang aku sendiri enggan menyebutkannya?” pikir lelaki
itu.
Seperti bisa membaca pikirannya,
Venus tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Dan ia mengangguk perlahan seperti
sebuah jawaban.
Mereka berpelukan, saling
merasakan kehangatan dari kerinduan yang mereka nantikan selama ini.
Tuhan tersenyum melihat kedua
hamba-Nya. Tuhan pun dengan perlahan merobek langit, dan hujan pun turun.
Perlahan, gerimis membuat tanah
merah ini basah.
Mereka terus berpelukan. Sunyi,
tak sepatah kata-pun keluar.
Lelaki itu, perlahan mata
gelapnya kembali bercahaya, meski hanya gerimis, tapi setidaknya ia menikmati
tetesan air yang menyentuh kulitnya, bahkan sekarang ia menikmatinya dalam
pelukan Venus.
Matanya menitikkan air mata. Hal
yang sudah lama ia lupakan!
Sebuah kalimat pertama keluar
dari mulut lelaki itu memecah kesunyian di antara mereka berdua: “Terima kasih
Tuhan”.
Dan Venus pun tersenyum, senyuman
cantik yang sekarang ia bagi dengan lelaki itu.
Langganan:
Postingan (Atom)