Selasa, 17 April 2012

Wado, 12 April 2012

Kamis, 12 April 2012
10:17 AM
Wado - Sumedang, Jawa  Barat, Indonesia

Langit biru, semilir angin, suasana sebuah kota kecil yang hangat. Esensi kata "pulang" semakin berarti ketika kita sedang berada jauh dari tempat kita menetap. Apa yang kita miliki terasa sangat berharga.

Dia yang merindukan kita. Dia yang dengan setia menunggu. Mereka yang bertanya-tanya dimana kita berada dan bagaimana kabar kita.

Banyak yang bertanya, "Apa sebetulnya tujuan kalian? Apa yang kalian cari?".

Ya, Apa sabenarnya?

Ketika pertama kali saya melakukan perjalanan seperti ini, itu juga yang saya pertanyakan. Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa sebenarnya tujuan saya? Kemana tujuan saya? Sekedar untuk bersenang-senang? Itu tidak mungkin. Bukan dengan cara seperti itu bersenang-senang. Jika iya-pun, akan lebih menyenangkan jika kita bisa berbagi kesenangan itu dengan teman, sahabat, atau kekasih.

Pencarian esensi dari kata "pulang". Mungkin itu lebih tepatnya.

Mungkin orang-orang berkata saya sudah gila, aneh, tidak waras, atau apapun yang mereka katakan. Tapi saya menikmati ini. Menikmati kerinduan ini. Menikmati ketika saya "pulang" dengan membawa kemenangan. Pulang dengan membawa cerita. Pulang ke suatu hal yang saya sebut "rumah".

Inilah hidup! Gambaran kecil kehidupan kita sebagai manusia. Melangkah, berjalan, menapakkan kaki, menuliskan sejarah, bertahan hidup.

Dan dimana sedang melakukan perjalanan seperti ini, apa yang sebelumnya tak pernah sedikitpun tak pernah terfikirkan, dengan sendirinya akan bermunculan di dalam kepalamu. Apa itu? Entahlah, langkahkan saja kakimu! ;)

RRNM

Selasa, 10 April 2012

Aku Pria Angkuh Pengelana

Aku Pria Angkuh Pengelana

Aku seorang pria.
Aku tidak seperti mereka.
Meskipun zat-ku sama.
Tapi ruh-ku berbeda.

Aku seorang pria.
Merekapun pria yang sama.
Tapi aku seorang pengelana.
Bukan anak manja yang selalu terbuai cinta.

Aku seorang pria.
Aku menjalani hari dengan prinsipku.
Orang mencaci idealismeku.
Tapi aku tetap angkuh; inilah aku!

Aku seorang pria.
Aku seorang pengelana.
Aku dengan kisah-kisahku.
Yang dulu hanya terselip di beberapa halamanku.
Tapi aku ingin namamu tercantum di setiap halamanku.
Hingga buku ini usang, dan akhirnya tertutup.

Kata tak cukup untuk menyampaikan.
Bahasa hanyalah bahasa.
Lirik hanya dilantunkan.
Tapi rasa adalah keagungan.

Sekali lagi aku adalah pria.
Pengelana angkuh yang berjalan.
Menapaki pahit getir kehidupan.
Mencari sebuah pintu cantik untuk diketuk.

Yang dia harap ruang di balik pintu cantik itu jadi rumah terakhirnya kelak...

[Bandung 0440sun040812]

Jurnal Yang Terbakar

Jurnal Yang Terbakar

Bandung, 1 Maret 2012
14.00
Matahari masih terus bersembunyi di antara awan gelap itu.


Aku duduk di pekarangan rumah kakekku itu. Tempat dimana aku sebut "rumah" ketika orang-orang bertanya dimana aku tinggal.

Aku membuka-buka jurnalku, membaca tiap halamannya dengan seksama. Kadang tersenyum sendiri, atau kesal sekesal-kesalnya. "Siapakah orang tolol yang menulis dan mengalami hal-hal semacam ini?" mungkin orang akan bertanya seperti itu. Masa bodoh!

Disitulah kutuangkan semuanya. Pikiran-pikiranku. Omong-kosongku. Celotehanku. Cacianku.Gambar-gambarku.

Aku mulai membakar beberapa halaman, membakar ruang-ruang kosong yang ada dalam halaman itu. Aku memperhatikan pola-pola yang terbentuk. Memperhatikan api membakar lembaran-lembaran itu.

Tanpa disadari seorang wanita menghampiriku. Dia memperhatikan sebentar dari balik teralis besi pagar halaman rumah.

Lalu dia bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku memandanginya. Sesaat naluriku sebagai lelaki muncul. Ia memang seorang wanita yang sangat menarik. Kulit putih bersih, mulus, badannya ramping berisi, rambut hitam panjang. Matanya bulat indah bercahaya. Dan bibirnya itu! Jika aku binatang, sudah kucabik bibir itu dengan gigiku.

"Hey? Ada apa denganmu? Apa yang sedang kau lakukan itu?" Suara manjanya itu membuyarkan fantasi sesaatku itu. 'Bodoh' kataku dalam hati, 'basa-basi bodoh'.
"Membakar kertas. Lihat?" Jawabku ketus. Aku suka wanita cantik, tapi malas menghadapi wanita bodoh.

"Aku tidak bodoh! Aku tahu kamu sedang membakar kertas!" WAnita itu mendekat. Terlihat jelas kejengkelan di wajahnya itu.

"Untuk apa kau membakar kertas-kertas itu? Dan yang aku lihat, kau tidak membakar habis semuanya, kau seperti membuat suatu pola dari api itu. Untuk apa?" Suara manja menggemaskan itu terdengar menjengkelkan untukku. Ditambah pertanyaan yang bertubi-tubi yang sebenarnya semenjak tadi aku tanyakan juga pada diriku sendiri.

Aku menghela nafas panjang. Dan mengangkat kepalaku memandang wajahnya. Mata kami saling bertemu.

'Sial!' ucapku dalam hati 'Setan sedang tertawa terbahak!'.

Akupun kembali membakar kertas-kertas itu sambil menjawab pertanyaannya: "Ada banyak ruang kosong dalam halaman-halaman di jurnal-jurnalku ini. Aku benci kekosongan, kebodohan. Aku hanya berharap dengan sedikit membakarnya bisa menyelesaikan, bisa mengisi kekosongan itu, kebodohan itu. Mengerti?"

Wanita itu hanya memperhatikan, lalu menyembulkan kepalanya di antara pagar supaya bisa melihat lebih jelas.

"Kenapa harus membakarnya? Kenapa tak kau tulis beberapa kata lagi saja? Atau kau gambar sesuatu mungkin? Lebih baik menurutku daripada harus kau bakar."

Aku terdiam sejenak sembari terus membakar kertas-kertas itu.

"Belakangan ini, hidupku seakan beralih ke dalam jurnal ini. Aku menulis jurnal ini ke depan, bukan ke belakang. Aku tak ingin berbalik, berpaling. Cukup kubaca bagian yang telah kulalui, tak ingin ku sentuh lagi."

"Dan besok adalah hari ulang tahunku, aku anggap kertas-kertas ini adalah lilin-lilinnya. Aku membakar dan meniupnya berulang-ulang. Aku berfikir, manusia tak akan bisa merubah masa lalunya, manusia hanya bisa memperbaikinya di masa kini dan masa depan."

"Aku hanya memperbaiki kekosongan, kebodohan, dalam jurnal ini. Aku tak bisa merubahnya, itu berarti kebohongan dan kebodohan yang lebih tolol lagi bagiku. Maka dari itu aku membakarnya. Aku harap semuanya dapat... setidaknya... terlihat lebih baik dari kenyataannya."

Wanita itu hanya memandangiku, lalu ia berjongkok. "Hmm. Analogi yang cukup baik. Jadi kamu adalah tipe orang yang selalu lari dari kenyataan ya?"

'Tidak! Bukan begitu!' Ah, sial. Aku tak bisa berkata-kata. Perlawananku berkahir di tenggorokan yang tersedak ini. Aku hanya tertegun memandangi wanita itu.

Dia berkata lagi sembari tersenyum dan berdiri "Jangan membantah. Pada dasarnya semua orang seperti itu. Tapi mereka memiliki kompensasi berbeda-beda untuk lari dari kenyataan. Tidak bisa disalahkan, sewaktu-waktu manusia memang memerlukannya. Tapi ingat! Carilah jalan untuk pulang ketika kamu berlari. Dan jangan sampai terlalu jauh! Hadapi dunia ini. Aku yakin, kamu, atau semua orang, pasti bisa menghadapi dunia ini. Tak perlu lari dari kenyataan. Carilah kompensasi yang lebih positif. Oke?"

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Aku tertunduk dan kembali membakar kertas-kertas itu.

Wanita itu berkata lagi "Baiklah, aku hanya bisa membantumu sebatas itu. Selanjutnya semua berada di tanganmu. Sampai jumpa kawan!"

Wanita itu mengakhiri kata-katanya sembari tersenyum simpul dan mengerling genit. Ia berlari meninggalkanku.

Tak sempat bertanya namanya atau layaknya suatu dialog perkenalan yang seharusnya. Ingin berterima-kasih sebetulnya. Tapi sudahlah, apa peduliku!
Kata-katanya benar, fikirku.

Aku selalu berusaha lari dari kenyataan. Sudahlah, hadapi saja.

Dan aku pun terus membakara kertas-kertas itu.

Damai...

Ya, aku merasakan kedamaian, ketenangan. Seakan beban-bebanku ikut terbakar dengan kertas-kertas itu.

Lari dari kenyataan? Entahlah. 'Masa bodoh!' pikirku. 'Biar kubakar kenyataan ini'.

"Happy birthday to me..." gumamku....


[ Bandung.  1400thu030112 ]

Lembayung Senja Sang Pengelana

Lembayung Senja Sang Pengelana

Lembayung senja bercerita
Tentang seorang pemuda pengelana
Ia berjalan menyusuri getir kehidupan
Menelan cacian, menjilat makian

Ia terus berjalan dengan angkuh
Wajah mendongak mata terbakar
Tak kecil hati ia menerjang hinaan
Wajah angkuh tetap terpampang

Hatinya merasa sepi, menjerit ia
Memecah kesunyian di ruang hati
Terkadang ia memohon ingin mati
Tapi ia tak ingin berakhir dipecundangi

Terus berjalan, ia menapaki
Menanti lembayung senja
Temannya di setiap hari
Yang bisa mengerti isi hatinya

- senja di atap rumah hangat itu bersamanya-
1700sat040712

Jumat, 06 April 2012

Apa yang direncanakan Tuhan?
Kita tidak akan pernah tahu sebelum menghadapinya.
Baik atau buruk, Tuhan pasti punya maksud.
Kita sebagai manusia hanya tinggal memikirkan dan menghadapinya se-bijaksana mungkin.

Rabu, 04 April 2012

Juliana

Juliana

Dia tersenyum, tertawa, bergembira
Tapi dia juga menyimpan luka
Luka dari cerita lama; tersirat dari matanya
Mata indah itu merekam kepedihan

Dia tersenyum, tertawa, bergembira
Seakan tak pernah ada luka
Luka lama, dari cerita lama
Selalu sama, sehingga terbiasa

Bagaimanapun dia tetap tersenyum
Harinya selalu dipenuhi tawa
Menyembunyikan luka, dia tetap bergembira
Tapi dimatanya tetap terbersit luka

Tetaplah tersenyum, tertawa
Mungkin denganku kau bisa tetap gembira
Matamu indah, lupakanlah luka
Tertawalah, lupakan luka lama

Tutuplah mata dan telinga
Biar ku kecup, agar kau lupa pernah terluka
Tersenyum, Tertawa selepas-lepasnya!
Bergembiralah, jangan ada luka, Juliana...

Senin, 02 April 2012

Kepala saya, dunia saya; yang tampak tidaklah nyata, semuanya fana...

Saya bukan penulis.
Saya tidak menulis sesuatu yang bagus.
Saya juga tidak mengakui tulisan-tulisan saya bagus.
Saya hanya bercerita.
Saya hanya mengatakan apa yang ingin saya katakan.
Saya hanya berceloteh, dengan diri saya sendiri, pikiran saya.
Saya seorang penyendiri, mungkin mereka bilang ini autis.
Saya lebih menikmati berbicara dengan diri saya sendiri, dengan kepala saya.
Seperti yang bertahun-tahun lalu, ketika kecil, saya pernah bertanya kepada Ibu saya:
"Ma, kenapa kepala saya berbicara sendiri kepada saya?"
Entah ini baik atau buruk, tapi saya menikmatinya...

Kepala saya, dunia saya; yang tampak tidaklah nyata, semuanya fana...

Bunga pandan yang harum

Bunga pandan yang harum

Bunga pandan yang harum.
Pernah mengisi ruang kosong.
Menebarkan harumnya.
Sesaat; tak kumiliki, hanya kucium wanginya.

Bunga pandan yang harum.
Tetap sempurna bagaimanapun juga.
Tak peduli orang berkata; dia tetap mekar
menebarkan keharumannya; mempesona!

Minggu, 01 April 2012

Bukan Tembok!!

Bukan tembok! Kasar dan keras.
Tembok itu dingin dan angkuh!
Bukan tembok! Sulit untuk dihancurkan.
Tembok bukan untuk dihancurkan!

Jika ia tembok, maka bukan seperti itu menghadapinya.
Jika ia tembok, tak ada kelembutan.
Jika ia tembok, tak ada kehangatan.
Jika ia tembok, ia akan berbalik menghancurkanmu!

Ia adalah pintu! Menyimpan banyak cerita dibaliknya.
Menunggu untuk dibuka.
Menunggu untuk seorang pengelana dengan cerita
turun dari kudanya; mengetuk dengan lembut.

Ia memang seperti pintu! Dingin, angkuh, keras!
Tapi tampak indah, mempesona!
Diukir oleh Pemahat Agung!
Buah karya cinta manusia.

Ia selayaknya sebuah pintu! Pintu kayu yang hangat!
Tidak harus mendobraknya dengan keras.
Pintu, menunggu untuk diketuk agar terbuka.
Pintu terbuka untuk orang yang datang dengan kebaikan.

Pintu itu pernah terbuka! Ya! Pintu indah itu!
Dibuka paksa kemunafikan.
Dibuka paksa seorang bocah yang menenteng salvo.
Diracuni kebusukan dan kebohongan.

Pintu indah itu tergores. Pintu itu menyimpan luka.
Bocah dengan salvo itu membiarkannya terbuka.
Dan memaksa kembali untuk membukanya
ketika orang-orang silih berganti datang mencoba menutupnya.

Dan ketika pintu itu sedang tertutup.
Seorang pengelana dengan kudanya dan cerita di bahunya.
Datang mengetuk, mencari tempat berlindung;
Ia mengiingikan sebuah rumah. Tempat ia bisa pulang!

Sang Pengelana mencoba merawat pintu itu.
Ia mencoba menutup rapat; merawat sebaik mungkin.
Meskipun bocah dengan salvo itu,
Kerap kali datang mengetuk.

Sang pengelana berharap pintu tetap tertutup.
Berharap pintu itu tetap angkuh dan dingin.
Berharap pintu itu tidak terbuka sedikitpun.
Sehingga bocah dengan salvo itu tak masuk lagi; menghancurkan.

Bukan tembok! Melainkan sebuah pintu!
Tidak kasar dan dingin! Melainkan hangat dan indah!
Tidak harus di dobrak! Ketuk saja, ia akan terbuka!
Bukan! Memang bukan tembok! Tapi pintu!

Tetaplah tertutup! Seorang pengelana sedang menulis sebuah cerita.
Lindungi pengelana itu, tetaplah tertutup rapat!
Kelak pintu itu akan menjadi senyum pagi; untuk sang pengelana.
Kelak pintu itu akan menjadi pintu keluar; ketika sang pengelana diarak menuju pusara nya.

Tidurlah!

Dia dan dunianya.
Dia dan masa lalunya.
Dia dan apa yang sudah dilaluinya.
Dia dan lukanya.

Semoga sekarang semuanya baik-baik saja.
Semoga kau terbangun dari mimpi burukmu.
Semoga aku bisa menjadi bantalmu yang baru.
Selayaknya sebuah bantal bulu terbungkus sutra.

Menyangga semua beban harimu.
Membuyarkan mimpi burukmu.
Membuatmu tertidur pulas.
Damai terbuai kelembutan dan kehangatan.

Tidurlah...

Harta? Tahta? Wanita? [ Hanya sembarang berceloteh ]

Apa yang kau cari? Harta? Tahta? Wanita?

Manusia. Terutama pria. Hidup untuk berkompetisi. Sejak zaman dahulu, sejak awal sejarah manusia tercatat. Sejak Qabil dan Habil saling berebut calon istri untuk mereka dan akhirnya yang satu di bunuh oleh yang lain. Sejak Nabi Adam diciptakan Tuhan. Sejak setan menolak untuk bersujud. Sejak itu...
Berkompetisi, berusaha menjadi yang terbaik. Saling berebut.

Pria, dihadapkan 3 cobaan: Harta, Tahta, Wanita.
Tuhan memberikan 3 pilihan itu.
Mana yang akan dipilih?
Oleh yang mana akan kau akan dihancurkan?

Oleh Harta? Sehingga kau mengorbankan Tahtamu -martabatmu- dan Wanitamu?
Oleh Tahta? Walaupun kau mengorbankan Hartamu, dan meninggalkan Wanitamu?
Atau oleh Wanita? Yang pada akhirnya Harta dan Tahtamu hancur lebur tak bersisa?

Tak ada kesempurnaa. Tak ada kepuasan...

Itulah manusia. Tak pernah puas!
Selalu merasa kurang; Tak pandai bersyukur.

Sejarah banyak mencatat orang-orang -terutama pria- yang hancur oleh salah satu, dua, bahkna ketiganya.
Itulah yang harus direnungkan oleh kita sebagai manusia. Terutama kaum pria.
Pandai-pandailah melangkah.
Bijaksanalah dalam menghadapi segalanya.
Dan terimalah, suatu saat kita akan terbuai oleh salah satunya. Dan mungkin akan hancur jika kita tidak se-segera mungkin berpaling dan bersujud.

#hanya berceloteh sembarangan