Sabtu, 31 Maret 2012

Dunia berputar, kita tak kuasa menghentikan.
Tapi tak ada salahnya kita memohon dan berusaha agar kita tetap mengorbit mengikuti alurnya.
Seiring sejalan. Menghindari sisi gelap dunia.

Hanya kusimpan dalam draft...

Tuhan memang Maha bijaksana.
Mempertemukan kita disaat mata sudah terbuka.
Mereka sebut ini dewasa.
Aku sebut ini buah tangan seorang pengelana.

Memang sudah suratan, dan aku percaya.
Tuhan menamparku dengan cobaan dan godaan.
Memupuk mentalku dengan apa yang dihadapi.
Membuka mata dan hati dengan apa yang dijalani.

Hingga saatnya Tuhan mempertemukan.
Menyatukan ketika "Tulus" diucapkan dalam artian sebenarnya.
Bukan hanya syair dan puisi indah layaknya pujangga mencinta.
Tulus dalam artian dan ungkapan sebenarnya.


Selalu: Ketika sesuatu itu ada, kita sering tidak menyadarinya. Menganggap itu hanya hal biasa saja. Bahkan berpaling mencari ketiadaan.

Tapi ketika sesuatu itu benar-benar hilang, hanya sesal yang tersisa; Tak bisa memanfaatkan waktu yang diberikan sebaik mungkin.

Maka, jagalah hal yang kau miliki sebaik mungkin, maksimalkan, seakan kau akan mati esok hari, sebelum terlambat. Sebelum benar-benar hilang dan tak bisa kembali.

- Aku, Kamu, Dia, Mereka; pasti pernah dan akan mengalaminya -
"Angka adalah Mahakarya Sang Kuasa. Di dalamnya terdapat Mahakarya bahasa yang tersembunyi & di kode-kan dengan amat sangat jenius. Dari satu menjadi ribuan kata & makna."

#Pengagum Tuhan

Tri-Komposisi

Satu merepresentasikan titik. Ada tapi tak tampak. Tak tersentuh ataupun terlihat oleh mata. Imajiner.

Dua merepresentasikan garis. Membagi & memisahkan. Baik & buruk. Suatu kesinambungan yang membangun aspek kehidupan. Kontinu. Tak tersentuh tiga. Dikendalikan oleh satu.

Tiga merepresentasikan sebuah bangun. Penggabungan titik & garis. Nyata & tampak jelas oleh mata. Sebuah bentuk nyata pertama yg terlihat mata manusia. Tiga mengandung dua didalamnya yg menjadikannya berkarakter.
Dan dari situ ia menuju satu.

"Tri-Komposisi" #RRNM

Selasa, 20 Maret 2012

Aku dan Penaku

Munafik jika saya mengatakan "tidak ingin membuat suatu tulisan yang bagus, yang penting berasal dari hati".
Ya, saya sangat ingin bisa membuat tulisan yang bagus. Tapi tentu saja tidak hanya bagus, tapi juga bermanfaat, mencerahkan, menggugah orang-orang, dan tentu saja, mewakili dan menggambarkan apa yang benar-benar saya fikirkan dan rasakan.
Sangat munafik juga jika saya mengatakan tidak ingin mendapat pengakuan. Bukan dengan materi atau berupa penghargaan tentunya. Tapi pengakuan dari orang-orang dengan membaca tulisan saya, dan bisa berguna untuknya.

Apa yang saya tuliskan.
Apa yang saya curahkan.
Apa yang saya fikirkan.
Apa yang saya rasakan.
Belum cukup untuk mendapatkan semua itu.
Belum bisa dikatakan sempurna.
Jangankan untuk semua itu, untuk bisa dikatakan "cukup bagus" pun saya rasa masih terlalu jauh, masih mentah.

Ya, itulah diri saya. Masih mentah!!
Tapi saya selalu belajar dan berusaha terus untuk bisa melakukannya menjadi lebih baik.
Penulis, pengarang, atau entah apapun sebutannya. Bukan tujuan saya. Karena sebetulnya jauh dari studi utama saya.
Kembali ke awal, dasarnya, saya memang suka membaca. Dan saya berusaha bersahabat dengan kertas dan pena untuk mencurahkan apa yang saya fikirkan dan rasakan (mungkin jika dalam blog ini, rentetan bilangan biner yang mewakili setiap susunan huruf menjadi kata dan kalimat).

Tujuan saya? Membuat sesuatu yang, mungkin, dan mudah-mudahan, bisa berguna. Baik untuk diri saya maupun orang lain.

Itulah aku, dan penaku.

Senin, 19 Maret 2012

Birokrat tetap saja birokrat.
Tetap seperti itu.
Dengan atau tanpa baju besinya.
Semanis apapun mereka berceloteh.
Klise...
Tetap kujawab dengan ludahku...
Aku tahu bagaimana cara mereka mentertawakanku.
Terbayang olehku tawa bodoh memuakkan itu.
Merobek telinga hingga hati ini.
Haruskah kupedulikan?
Masa bodoh!; Pikirku.
Akan terus kugoreskan pena ini meski harus bertinta darah.
Tak akan kututup dan kubakar jurnal ini.
Ini aku! Sepertinya aku lebih ber-nyali dan tidak bodoh sepertimu!

Jumat, 16 Maret 2012

rumah itu.yang dulu diselimuti kebahagiaan.kini kosong.berdebu.gelap.tak hanya pemiliknya,orang melewatinya pun merindukan kebahagiaan yang ada di rumah itu.akankah semuanya kembali?
Terasa menyesakkan, ketika di hadapkan dengan kenyataan.
Kehidupan memang keras. Kehidupan memang menyebalkan.
Tapi inilah yang sudah di berikan. Baik atau buruk, kita hanya bisa menjalaninya.
Hingga akhirnya mati. Tujuan akhir dari hidup ini.
bukan di puncak gunung tertinggi ataupun di tengah samudra luas.
Tapi disini, di tempatku berdiri.
Sebuah kota besar dengan bangunan2 berhimpit,jalanan macet,polusi.

Matahari yang sama,langit yang sama.
Kepuasan,rasa syukur,memabukkan.

Andai mereka menyadarinya.
Dan berhenti sejenak.
Sekedar untuk menikmati dan bersyukur.
Inilah kehidupan.

Klise, ini untukmu!

klise.
dunia gelap.
terang pada saatnya.
mencoba melihat.

dalam cahaya temaram.
tangan mengais.
mencari.
tak ada yang di raih.

klise.
sejarah adalah sahabat.
menorehkan luka.
itu faktanya.

dalam cahaya temaram.
tangan meraup membabi buta.
apa saja yang terlihat.
tak ada yang berati.

klise.
sejarah menghantui.
memandikan dengan darah.
hanya terlihat, tapi tak dirasakan.

raihlah apa yang bisa diraih.
buang yang terlanjur terbuang.
bakar dengan semangat.
tenggelamkan saja.

klise.
cahaya itu masih ada.
temarampun karena luka.
berhenti membabi buta.

ini bukan surga
bukan pula neraka
ini dunia kita
biarkan darah mengalir dari luka, hingga kering.
dan mati.
dalam sebuah perang. permasalahannya hanya dalam pengambilan keputusan. siapa yang menang dan siapa yang kalah sama-sama terhormat. selama pertempuran itu fair. seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, meskipun harus ada yang di korbankan. dan terkadang sebuah keputusan harus diambil dalam keadaan2 sulit dan genting. seorang pemimpin, sehebat apapun, adalah manusia biasa. darah tetap akan tertumpah, baik milik kawan ataupun lawan, cepat ataupun lambat. semua hanya masalah waktu saja. baik itu sekarang, ataupun nanti. hidup, ataupun mati. sama saja. 
toh, kehormatan tetap milik mereka yang berperang dengan pertarungan yang adil.

Meludah (6)

Mereka anggap itu lelucon dan mentertawakan,
Mentertawakan kebodohan mereka sendiri.
Terlalu naif, munafik, memuakkan.
Hanya tinggal menunggu waktu untuk mereka berhenti tertawa dan merasakan pahit yang sama.
Ya, pengalaman memang guru terbaik.

Untuk Ibu

Wanita itu masih tetap cantik. Bahkan terlihat jauh lebih muda dari usianya.
Keceriaan tak lepas dari wajahnya. Senyumnya tetap mengembang.
Tak terlihat ada kegetiran hidup yang sebenarnya tersembunyi di lubuk hatinya.
"jalani saja, nikmati, Tuhan tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia"
nasihat yang sering ia berikan.
Seorang wanita kuat.
Dengan ketabahan luar biasa.
Selayaknya Tjoet Nyak Dien, Kartini, Mother Theressa, Putri Diana, Siti Maryam, atau wanita2 luar biasa lain yang tercatat dalam sejarah.
Seorang wanita bijaksana dengan semangat hidup luar biasa, telah mendampingi hidup saya selama ini.

Tetaplah tersenyum, Ibu..

Meludah (5)

Dewasa lah nak!
Hidup memang keras.
Terkadang kau rasa tak adil.
Pahit getir yang kau rasakan, rasakanlah!
Nikmati!
Menangislah!
Meraung!
Getarkan bumi ini dengan teriakanmu!

Lantas fikirkan setelah kau lelah menangis, meronta, dan berteriak!
Mungkin 10 tahun lg kau akan tersenyum ketika memikirkan hal yang telah kau tangisi itu.
Ilmu adalah jubahku.
Biarkan tubuh ini hanya dibalut kain lapuk.
Tak akan malu diri ini!
Cukup dengan ilmu, akan ku jelajahi dunia ini!
Mari bersimpuh dan merenungi diri ini.
Layak kah diri ini berada di Surga-Nya?
Masihkah ingin menikmati jadi orang fasik?
Jangan takut! Tak usah berpaling!
Terima saja. Itulah pilihanmu.
Benar ataupun salah.
Cukup lah menjadi fasik.
Jangan menjadi munafik.
Ada saatnya untuk bertaubat.
Cepat atau lambat.
Sempat ataupun tidak.
Setidaknya bukan munafik.
Ya! Terima saja!
Karena itu kenyataannya.

Meludah (4)

seperti Anjing.
Ditendang seperti anjing.
Ditindas seperti anjing.
Dikekang seperti anjing.
Dicaci seperti anjing.
Mereka bilang "sekali anjing tetaplah anjing! Mati saja kau anjing!"
Biarkan mati seperti ANJING daripada hidup menjadi TIKUS!

#pepatah bijak seorang pemuda sinting

Meludah (3)

Si kecil mengais-ngais hanya berusaha untuk melanjutkan hidup. Berlumuran peluh, terlunta-lunta.
Si besar dengan angkuh dan rakusnya meraup segala yang ada. Terbahak-bahak dibalik meja.

Ironis tapi inilah realita.

Janji manis mereka ketika mengemis suara tak ayalnya seperti nyalakan seekor ANJING kampung kudisan.
Dan buktinya? Seperti ANJING. Mereka berhenti menyalak ketika perut mereka penuh.
Mereka hanya bersembunyi di balik mejanya.

Dasar ANJING!

"Saudara di pilih, bukan di lotre"
sulit untuk tidak menjadi sentimen.
Tapi. Hey! Fikirkan lagi. Dengan sikapmu seperti itu, tampak seperti kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!
Fikirkan juga orang di sekitarmu!
Yaah. Saya hanya bisa minta maaf.
Tapi memang saya sedang ingin menenangkan diri.
Biarkan saya merebahkan tubuh ini dan memejamkan mata.
Semoga semuanya lebih baik ketika saya bangun.
Setidaknya kepala ini dingin.
Biarkan sejarah berlalu.
Tulislah jurnalmu ke depan.
Biarkan yang tlah lalu menjadi kenangan.
Jangan menjadi beban untuk masa depan.

Jadikan sejarah sebuah pelajaran.
Tak perlu disesali atau ditangisi.
Cukup jadikan sebuah kenangan.
Tak perlu dirindukan, atau kau terbunuh olehnya.
Perasaan merupakan hasil dari sugesti dalam otak manusia di luar kesadarannya. Di tambah dengan faktor hubungan sebab-akibat yang kontinu dan kompleks sehingga menciptakan apa yang disebut dengan "perasaan" itu. Jadi semua itu hanya sebuah sistem, tidak lebih.
Pada dasarnya, semua makhluk Tuhan itu baik. Tuhan tidak memberikan keburukan sedikitpun terhadap makhluknya. Kalaupun makhluk Tuhan terlahir dengan kekurangan atau kecacatan sekalipun, itu adalah suatu kasih sayang-Nya dalam bentuk lain. Manusia hanya perlu belajar untuk bersyukur, menerima, dan memikirkan arti hidupnya. Memikirkan setiap langkahnya ketika berjalan di muka bumi ini. Memikirkan perannya dilahirkan sebagai manusia.
Dunia ini tidak nyata, semuanya fana, suatu saat akan hilang.
Pupuklah, jaga baik-baik.
Nikmati sebelum mati.
Keabadian, hanya sebuah harapan.
Tapi tak ada salahnya berharap.

Meludah (2)

Mengungkapkan sebuah rahasia itu mengasyikkan.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan apa yang dicari.
Tapi tidak sedikit rahasia yang telah terungkap ternyata menyakitkan.
Terkadang memang rahasia lebih baik tetap terkubur, membusuk.
Itu lebih baik... Mungkin?

Meludah (1)

Motivator terbaik adalah pengalaman dari kehidupan kita sendiri.
Bukan orang sok tahu yang berbicara tentang omong kosong indahnya kehidupan.
Pengalaman hidup orang berbeda2.
Nasib yang diberikan berbeda2.
Tentu juga parameter tentang indahnya kehidupan berbeda2.

Si kaya bilang hidup indah itu berlibur di sebuah pulau dengan alamnya yang indah.
Si miskin bilang hidup indah itu bisa menghadapi hari esok tanpa dikejar kolektor dan anaknya tetap bisa sekolah.
Jadi omong kosong yang disebut motivasi seperti apa yang akan diberikan untuk keduanya?

#RRNM

Sebuah Cerita (1)

Sebuah cerita: "Seseorang berpenampilan necis, dasi dan jas mahal, kulit bersih terawat, dan mobil mewah menghampiriku dan berkata: 'nak, belajarlah sebaik mungkin agar kamu berhasil seperti saya. Dengan begitu hidup kamu akan bahagia.' dan dia pergi.

Lalu seseorang dengan penampilan lusuh, bau matahari yg menyengat, dan rambut gondrong awut2an duduk disampingku dan berkata: 'Banyak2 lah berjalan kaki menyusuri hidupmu nak. Karena hatimu akan kedinginan & terkunci di balik mobil mewah dan ruangan kantormu yang ber-AC."

#RRNM

Cukup Menjadi Api

Cukup menjadi api.
Biar terus berkobar dan terbakar.
Biarkan sekitarku terbakar.
Air selalu memadamkan kobaran api ini menjadi arang, tanpa membersihkannya.

Kobaran api ini berkali2 di sulut dan dipadamkan.
Air memadamkannya dengan indah dan manis.
Tapi selalu, klise. Tak ada pelangi setelahnya.
Hanya dibiarkan menjadi arang.

Cukup menjadi api.
Biarkan berkobar.
Indah, membakar. Tidak menghancurkan.
Hanya melelehkan besi-besi itu.
Mendidihkan setiap air sehingga menjadi uap.
Menjadi awan.
Hingga pelangi yang diimpikan itu tercipta.

Trilogi realita

Siapakah yang salah? Sistemkah yang harus dipersalahkan?
Apa diri ini yang salah? Atau dia? Atau mereka? Atau mungkin kami?

Mungkin memang ini yang disebut "sebab-akibat"
Yang kecil hanya mengais dan mengambil sedikit
Tak lebih hanya untuk tetap hidup

Dan yang besar dengan angkuhnya meraup semua
Rakus, mereka melahap segala yang ada
Tak peduli si kecil meronta, getir

Untuk itu Tuhan pun murka
Diberikanlah amarahnya, sedikit tiupan
Si kecil pun menangis semakin menjadi

Tuhan bermaksud baik
Mengingatkan si kecil untuk mengais tapi tidak merusak
Dan membuat si besar agar berbagi untuk si kecil

Idealnya seperti itu. Kenyataannya?

Si Kecil hanya meredam tangisnya, digantikan senyum getir
Si besar tetap saja angkuh, bersikap acuh tak acuh

Jadi siapakah yang patut dipersalahkan?
Apa benar Tuhan tidak adil? Itu tidak mungkin!

Sebuah Cerita dari Hati (2)

Terlalu banyak sakit dan perih yang kurasakan.
Terlalu banyak kehilangan yang sudah kualami.
Meskipun kehilangan kamu, aku tak akan menangis meronta.
Tak harus menjadi gila.
Biarkan saja. Lepaskan. Terbang entah kemana.
Aku tak akan terlalu peduli. Tak akan kutangisi.
Aku sudah berteman dengan rasa sakit.
Seperti meminum arak atau menghisap ganja.
Kunikmati meski pahit. Kuresapi meski sakit.
Dan aku masih tetap tertawa lepas setelahnya.
Aku menyukai rasa sakit! Ya! Mungkin seperti itu!
Seperti candu? Mungkin...
Seakan seperti kunanti-nanti. Seperti kuharapkan.
Rasa sakit itu selalu aku bayangkan.
Dalam lamunan, tidur, atau bahkan sadar sepenuhnya.
Rasa sakit itu seperti sedang kualami, karena aku menginginkannya!
Aku mendambakan dan mengharapkannya!
Mungkin orang akan berkata aku sudah gila. Biarlah!
Karena bahagia itu naif menurutku!
Dan kepedihan adalah realita!
Rasa cinta sebenarnya!

Sebuah Cerita dari Hati (1)

Memuakkan! Orang itu bermanis-manis di depan, meludahi di belakang.
Membicarakan keburukan keluarga dan temannya sendiri kepada orang lain.
Benar-benar orang lain!!!
Bukan siapa-siapa!
Tak sedikitpun memiliki hubungan darah dengannya. Apa yang dia inginkan?

Ya ampun! Aku? Ya! Aku pun melakukan hal yang sama. Tapi aku membicarakan kepedihanku! Menceritakan apa yang aku rasakan!

Ingin rasanya kuseret kaki ini! Berlari dan keluar dari tempat ini!
Melempar semua barangku.
Entah kemana! Entah jatuh dimana! Biarkan berceceran!

Akupun tak tahu kemana tujuan hidupku!
Biarkan saja kuikuti kemana kaki ini ingin melangkah!

Aku bercinta dengan kesintingan!

Nyeri tak terperi
Jilatlah dan nikmati
Kepedihan bukan untuk ditangisi
Luka membusuk itu nikmat!

Jilatlah dan nikmati!
Hingga mabuk!
Bukan anggur atau arak
Tapi luka yang tak tampak

Tak usah kau berteriak!
Meskipun seisi dunia mendengar
Belum tentu mereka peduli
Jilat saja! Nikmati! Tertawa!

Sinting; Pikir mereka
Ya! Dunia memang sudah sinting!
Dan aku bukan orang yang naif
Aku bercinta dengan kesintingan ini!

Idealisme, realita?

Malam tak selamanya gelap
Siang tak akan selalu terang

Hingga saatnya tiba
Aku tetaplah aku, tak akan ada yang berubah...

Antara idealisme... dan realita...
Idealisme bukan hanya milik orang yang berjalan di atas...
Begitu juga dengan realita... tak bisa selalu dipaksakan pada dia yang merangkak...

Jalani saja hidup ini
Seberat apapun
Seperih apapun
Meski harus berceceran darah...

"Semua akan indah pada saatnya..."

Ya! Hingga saatnya tiba....
Aku, tetaplah aku... Tetap diri ini....

Rumah

Rumah


Rumah bukan hanya sekedar tempat untuk tinggal, menetap, menjadi identitas.
Rumah bukan hanya sekedar tempat untuk berlindung diri dari panas matahari dan deras hujan.

Rumah adalah tempat dimana kita bisa merasa nyaman.
Tempat untuk memulai dan mengakhiri.

Sebuah poros...

Dimana orang yang mencintai dan kitai cintai menunggu...
Sebuah tujuan, ketika sudah lelah melangkah atau terlalu jauh...




Rumahku bukanlah tempat dimana aku menetap dan berdiam diri...
Rumahku adalah tempat dimana kaki dan hati ini berpijak...
Karena disitulah aku merasakan kedamaian sesungguhnya...
#RRNM

Lantunan si pengembara

Lantunan si pengembara
Hidup adalah perjuangan
Mengembara, mencari
Meskipun hanya berjalan
Menyusuri trotoar

Sejatinya hidup memang
Sebuah petualangan
Perjalanan mencari
arti keberadaan diri

Berjalan di muka bumi
Hidup, hanya sebatas itu kah?
Lantas apa sebetulnya?
Pertanyaan bodoh!!

Tatap cermin itu! lihat sosok yang ada di dalamnya
Siapakah dia?
Apa yang sudah dapat dia berikan?
Apakah dia benar-benar hidup?

Tetaplah tersenyum

Biarkan aku melihat senyum itu, jangan berpaling!
Tapi benamkan wajahmu di dadaku ketika kau menangis.
Dan angkat kembali ketika senyummu telah kembali.
Karena aku suka senyum itu!
Aku cinta tawa itu!

to: Keny Juliana

Wanita

Wanita adalah makhluk lembut, indah, mistis.
Tetapi dapat menyesatkan dan menghancurkan!
Maka cintailah mereka dengan bijaksana!

Pena dan Kertas

Sulit menemukan teman yang bersedia dengan senang hati untuk mendengarkan semua omong kosong saya.
Kertas dan pena. Ya! Hanya 2 hal itu yang bisa di andalkan!

Semua omong kosong saya dapat tercurahkan tanpa harus memandang wajah lelah, pemotongan pembicaraan, penentangan, ataupun kabur karena merasa kupingnya sudah panas mendengar semua omong kosongku ini.
Tapi jika pena dan kertas ini hidup, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama?
sudahlah..

Tetaplah menjadi benda mati wahai pena dan kertas, setidaknya pemuda galau penuh mimpi dan kelelahan seperti saya masih memiliki teman untuk ber-"omong kosong" ria!

Si Kurus

Kepala ini seakan terlalu sempit untuk menampung gumpalan yang ada didalamnya.
Gumpalan pink berlendir ini terus berdenyut.
Begitu keras. Entah berapa liter darah yang dipompa terus menerus ke dalamnya.

Mungkin itu yang membuat saya tetap kurus-kering meski 4 sampai 5 kali waktu makan dalam sehari dan porsi double.
Entah terkuras kemana semua nutrisi itu.

Tulisan pertama, sebuah pembuka

Tulisan pertama, sebuah pembuka.

Katakan ini adalah sebuah jurnal.
Dan blog ini adalah pengarsipan dari jurnal kehidupanku.

Menulis mungkin bukan kegiatan yang baru untuk saya. Disamping saya hobi membaca buku, saya terkadang menulis sedikit. Puisi, sajak, sekedar quotes, lirik, cerpen, atau apapun itu.
Kebanyakan hanya untuk konsumsi diri. Dan media ekspresi ketika tidak ada teman untuk di ajak bertukar pikiran.

Saya bukan seorang penulis handal. Sejak dulu belum pernah serius mempelajari sastra. Hanya dari kegemaran saya membaca, saya mendapatkan sedikit banyak ilmu, terutama mengenai sastra.

Menulis hanya kegiatan sampingan dan media ekspresi saja untuk saya. Syukur bila ada yang bisa menikmati tulisan saya, jika tidakpun, biarkan ini menjadi catatan sejarah untuk saya sendiri.

Minat saya pada teologi, teknologi, sains, sastra, musik, lukisan, foto, sejarah, dan filsafat. Saya sangat senang bila ada yang ingin berbagi ilmu dan bertukar fikiran tentang hal-hal itu. Karena saya yang masih teramat bodoh ini selalu haus akan ilmu.

Dan fikiran-fikiran yang saya curahkan disini semoga dapat berguna, minimal untuk diri saya dan orang terdekat saya. Dan saya akan sangat senang bila dapat berguna untuk orang lain. Dan ada yang bisa menikmati setiap kata nya.

Tak banyak kata yang ingin diucapkan dalam sebuah pembuka.
Semoga harapan dan tujuan saya tercapai.
Amin.

Ceritakan duniamu lewat tulisanmu...
-pesan seorang sahabat-