Sabtu, 20 Oktober 2012

Aku membisu di pembaringanmu

Aku membisu di pembaringanmu
Ingin menangis, menjerit, meronta
meneriakkan kepedihanku kepada semesta
Tapi tubuh ini terlalu lemah meski untuk bicara

Kerinduan tak terobati
pedih, perih, menyakitkan...

Mata, Venus, dan Hujan


Mata, Venus, dan Hujan
#rrnm.- Bandung, Kiaracondong, 0805AM 10/15/12

Seorang lelaki muda duduk termenung di tepian harapannya. Ia menatap langit tak henti-hentinya hingga sebelah matanya seakan terbakar berwarna merah menyala dan sebelah lagi seperti mati –pucat, gelap, hitam, kosong, tak bernyawa-.
Ia menatap langit dan berdoa kepada Tuhan-nya, “Tuhan, mengapa hari tak kunjung hujan? Aku bosan dengan panas ini, aku lelah dengan panas ini, aku hampir mati dan bahkan terkadang tak sadar kalau aku masih hidup.”
Bukan Tuhan tak mendengar doa-nya. Tuhan tahu, Tuhan maha Tahu. Ia mendengar dengan seksama setiap vokal dan konsonan yang terucap dari lelaki muda itu, Tuhan membelai dengan tangan kasih-Nya dengan iba seperti seorang Ibu kepada anaknya.
Hanya saja terkadang kita terlalu naif untuk menyadari belaian kasih Tuhan. Kita terlalu bodoh untuk menyadari rencana Tuhan. Kita terlalu ‘manusia’ untuk sekedar mensyukuri kehidupan kita.
Lelaki muda itu terus meratap dan menatap ke arah langit.
“Awanmu sudah gelap Tuhan, tetapi mengapa tak setetes-pun air yang menyentuh bumi ini dari langit-Mu yang maha luas itu? Apakah bumi ini terlalu kotor sehingga hujan sekalipun enggan untuk singgah menyentuh tanah-tanah merah ini?”
Tanpa disadari oleh lelaki malang itu, sepasang mata cantik menatapnya dari jauh, mata cantik itu milik seorang gadis cantik. Venus nama gadis itu. Namanya secantik dirinya. Wajahnya secantik kepribadiannya. Venus, seorang dewi yang menjelma dan berdiri di atas tanah merah ini.
Lelaki malang itu mencuri pandangan sepasang mata cantik itu. Entah apa yang difikirkan oleh Venus, tapi ia seperti melihat lelaki itu dari sisi lain kehidupannya, sisi lain dari kepribadiannya, sisi yang sama sekali tak terlihat tapi ada dalam diri lelaki itu. Venus memang seorang dewi! Tak diragukan lagi dari kebiksanaannya.
Tetapi Venus tetap menjaga jaraknya dari lelaki itu. Sedikitpun ia tak mengambil langkah untuk sekedar mencoba mencium bau kulit lelaki itu. Venus hanya mengawasinya dari kejauhan, mencatat setiap gerakan kecil yang dilakukan lelaki itu dalam kebijaksanaannya.
Lelaki itu terus menatap, meratap, dan melenguh memandang langit yang semakin gelap itu...
Entah sudah berapa kali Venus berputar-putar mengelilingi lelaki itu dari kejauhan. Rerumutan dan tanaman-tanaman yang ia lewati mati dan layu. Ia tahu tapi seakan tak peduli. Ia ingin sekali mendekat tetapi ia tak tahu apakah lelaki itu sama seperti tanaman dan rumput layu itu atau tidak. Ia tahu lelaki itu berbeda, tapi ia tetap takut untuk hanya sekedar mengambil langkah untuk mendekat meski hanya satu inchi dari tempatnya sekarang.
Langit semakin gelap menyembunyikan matahari, tapi hujan tetap tak unjung turun. Sekarang kedua mata lelaki itu benar-benar gelap dan mati. Lelaki itu berfikir buta lebih baik daripada ia memiliki mata gelap yang tak bisa menitikkan setetespun air mata. Sekarang ia meraung! Berteriak kencang ke arah langit sembari mengepalkan tinjunya.
Venus menangkap kejadian itu. Alih-alih berlari mendekat, ia hanya berdiri, terdiam, menghentikan langkahnya. Dan sekarang langkahnya menjadi tak teratur. Ia berjalan kesana kemari membuat hampir semua tanaman yang ada disekitarnya dan yang di lalui-nya mati. Ia menangis terisak.
Lelaki itu berhenti menengadah, ia menundukkan kepalanya. Tapi sekejap, dari sudut matanya ia melihat sesosok tubuh berselimut cahaya merunduk dan di sekitarnya tanaman-tanaman mati dan layu.
Ia menatap sosok itu, tetapi kecantikan itu menyadari tatapan mata gelap lelaki malang itu, kecantikan itu memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah cantiknya dan berjalan semakin  tak karuan. Kecantikan Venus itu sekejap membuat lelaki itu lupa ia sedang menanti hujan.
Lelaki itu mendekat, sedkit demi sedikit. Dengan hati-hati ia melangkah. Venus menyadarinya, itu memang yang ia harapkan dan nanti-nantikan selama ini, tapi ia takut lelaki itu juga akan bernasib sama dengan tanaman-tanaman yang layu dan mati itu.
Perang batin mendera Venus, di satu sisi ia memang sudah merindukan wangi tubuh lelaki dengan mata gelap itu, tapi di sisi lain ia pun takut! Ketakutan yang tak ia berikan kepada tanaman-tanaman mati itu.
Venus mencoba berlari, tapi ternyata lelaki itu sudah sangat dekat sehingga ia bisa mencium wangi tubuh lelaki malang bermata gelap itu.
“Ya Tuhan, wangi ini memabukkan. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya.” pikir Venus.
Lelaki itu terpesona oleh kecantikkan Venus, ia lupa tentang hujan yang ia nantikan.
Sekarang keduanya sudah sangat dekat, mereka saling berhadapan. Kedua mata itu saling bertemu. Mata cantik Venus menembus ke gelapan mata si lelaki kurus itu.
Tak satu patah kata-pun meluncur dari mulut keduanya. Mereka hanya berdiri dan saling menatap. Menikmati kerinduan yang sudah lama mereka nantikan. Kerinduan tak masuk akal yang merasuk begitu saja, seakan mereka pernah bertemu pada kehidupan yang lain dan di pertemukan kembali sekarang.
“Inikah yang semua orang bicarakan? Inikah apa yang di sebutkan dalam kitab-kitab semua Agama yang ada di dunia ini? Inikah yang mereka agung-agungkan dalam setiap lirik, prosa, puisi dan lukisan? Inikah yang aku sendiri enggan menyebutkannya?” pikir lelaki itu.
Seperti bisa membaca pikirannya, Venus tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Dan ia mengangguk perlahan seperti sebuah jawaban.
Mereka berpelukan, saling merasakan kehangatan dari kerinduan yang mereka nantikan selama ini.
Tuhan tersenyum melihat kedua hamba-Nya. Tuhan pun dengan perlahan merobek langit, dan hujan pun turun.
Perlahan, gerimis membuat tanah merah ini basah.
Mereka terus berpelukan. Sunyi, tak sepatah kata-pun keluar.
Lelaki itu, perlahan mata gelapnya kembali bercahaya, meski hanya gerimis, tapi setidaknya ia menikmati tetesan air yang menyentuh kulitnya, bahkan sekarang ia menikmatinya dalam pelukan Venus.
Matanya menitikkan air mata. Hal yang sudah lama ia lupakan!
Sebuah kalimat pertama keluar dari mulut lelaki itu memecah kesunyian di antara mereka berdua: “Terima kasih Tuhan”.
Dan Venus pun tersenyum, senyuman cantik yang sekarang ia bagi dengan lelaki itu.

Selasa, 17 April 2012

Wado, 12 April 2012

Kamis, 12 April 2012
10:17 AM
Wado - Sumedang, Jawa  Barat, Indonesia

Langit biru, semilir angin, suasana sebuah kota kecil yang hangat. Esensi kata "pulang" semakin berarti ketika kita sedang berada jauh dari tempat kita menetap. Apa yang kita miliki terasa sangat berharga.

Dia yang merindukan kita. Dia yang dengan setia menunggu. Mereka yang bertanya-tanya dimana kita berada dan bagaimana kabar kita.

Banyak yang bertanya, "Apa sebetulnya tujuan kalian? Apa yang kalian cari?".

Ya, Apa sabenarnya?

Ketika pertama kali saya melakukan perjalanan seperti ini, itu juga yang saya pertanyakan. Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa sebenarnya tujuan saya? Kemana tujuan saya? Sekedar untuk bersenang-senang? Itu tidak mungkin. Bukan dengan cara seperti itu bersenang-senang. Jika iya-pun, akan lebih menyenangkan jika kita bisa berbagi kesenangan itu dengan teman, sahabat, atau kekasih.

Pencarian esensi dari kata "pulang". Mungkin itu lebih tepatnya.

Mungkin orang-orang berkata saya sudah gila, aneh, tidak waras, atau apapun yang mereka katakan. Tapi saya menikmati ini. Menikmati kerinduan ini. Menikmati ketika saya "pulang" dengan membawa kemenangan. Pulang dengan membawa cerita. Pulang ke suatu hal yang saya sebut "rumah".

Inilah hidup! Gambaran kecil kehidupan kita sebagai manusia. Melangkah, berjalan, menapakkan kaki, menuliskan sejarah, bertahan hidup.

Dan dimana sedang melakukan perjalanan seperti ini, apa yang sebelumnya tak pernah sedikitpun tak pernah terfikirkan, dengan sendirinya akan bermunculan di dalam kepalamu. Apa itu? Entahlah, langkahkan saja kakimu! ;)

RRNM

Selasa, 10 April 2012

Aku Pria Angkuh Pengelana

Aku Pria Angkuh Pengelana

Aku seorang pria.
Aku tidak seperti mereka.
Meskipun zat-ku sama.
Tapi ruh-ku berbeda.

Aku seorang pria.
Merekapun pria yang sama.
Tapi aku seorang pengelana.
Bukan anak manja yang selalu terbuai cinta.

Aku seorang pria.
Aku menjalani hari dengan prinsipku.
Orang mencaci idealismeku.
Tapi aku tetap angkuh; inilah aku!

Aku seorang pria.
Aku seorang pengelana.
Aku dengan kisah-kisahku.
Yang dulu hanya terselip di beberapa halamanku.
Tapi aku ingin namamu tercantum di setiap halamanku.
Hingga buku ini usang, dan akhirnya tertutup.

Kata tak cukup untuk menyampaikan.
Bahasa hanyalah bahasa.
Lirik hanya dilantunkan.
Tapi rasa adalah keagungan.

Sekali lagi aku adalah pria.
Pengelana angkuh yang berjalan.
Menapaki pahit getir kehidupan.
Mencari sebuah pintu cantik untuk diketuk.

Yang dia harap ruang di balik pintu cantik itu jadi rumah terakhirnya kelak...

[Bandung 0440sun040812]

Jurnal Yang Terbakar

Jurnal Yang Terbakar

Bandung, 1 Maret 2012
14.00
Matahari masih terus bersembunyi di antara awan gelap itu.


Aku duduk di pekarangan rumah kakekku itu. Tempat dimana aku sebut "rumah" ketika orang-orang bertanya dimana aku tinggal.

Aku membuka-buka jurnalku, membaca tiap halamannya dengan seksama. Kadang tersenyum sendiri, atau kesal sekesal-kesalnya. "Siapakah orang tolol yang menulis dan mengalami hal-hal semacam ini?" mungkin orang akan bertanya seperti itu. Masa bodoh!

Disitulah kutuangkan semuanya. Pikiran-pikiranku. Omong-kosongku. Celotehanku. Cacianku.Gambar-gambarku.

Aku mulai membakar beberapa halaman, membakar ruang-ruang kosong yang ada dalam halaman itu. Aku memperhatikan pola-pola yang terbentuk. Memperhatikan api membakar lembaran-lembaran itu.

Tanpa disadari seorang wanita menghampiriku. Dia memperhatikan sebentar dari balik teralis besi pagar halaman rumah.

Lalu dia bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku memandanginya. Sesaat naluriku sebagai lelaki muncul. Ia memang seorang wanita yang sangat menarik. Kulit putih bersih, mulus, badannya ramping berisi, rambut hitam panjang. Matanya bulat indah bercahaya. Dan bibirnya itu! Jika aku binatang, sudah kucabik bibir itu dengan gigiku.

"Hey? Ada apa denganmu? Apa yang sedang kau lakukan itu?" Suara manjanya itu membuyarkan fantasi sesaatku itu. 'Bodoh' kataku dalam hati, 'basa-basi bodoh'.
"Membakar kertas. Lihat?" Jawabku ketus. Aku suka wanita cantik, tapi malas menghadapi wanita bodoh.

"Aku tidak bodoh! Aku tahu kamu sedang membakar kertas!" WAnita itu mendekat. Terlihat jelas kejengkelan di wajahnya itu.

"Untuk apa kau membakar kertas-kertas itu? Dan yang aku lihat, kau tidak membakar habis semuanya, kau seperti membuat suatu pola dari api itu. Untuk apa?" Suara manja menggemaskan itu terdengar menjengkelkan untukku. Ditambah pertanyaan yang bertubi-tubi yang sebenarnya semenjak tadi aku tanyakan juga pada diriku sendiri.

Aku menghela nafas panjang. Dan mengangkat kepalaku memandang wajahnya. Mata kami saling bertemu.

'Sial!' ucapku dalam hati 'Setan sedang tertawa terbahak!'.

Akupun kembali membakar kertas-kertas itu sambil menjawab pertanyaannya: "Ada banyak ruang kosong dalam halaman-halaman di jurnal-jurnalku ini. Aku benci kekosongan, kebodohan. Aku hanya berharap dengan sedikit membakarnya bisa menyelesaikan, bisa mengisi kekosongan itu, kebodohan itu. Mengerti?"

Wanita itu hanya memperhatikan, lalu menyembulkan kepalanya di antara pagar supaya bisa melihat lebih jelas.

"Kenapa harus membakarnya? Kenapa tak kau tulis beberapa kata lagi saja? Atau kau gambar sesuatu mungkin? Lebih baik menurutku daripada harus kau bakar."

Aku terdiam sejenak sembari terus membakar kertas-kertas itu.

"Belakangan ini, hidupku seakan beralih ke dalam jurnal ini. Aku menulis jurnal ini ke depan, bukan ke belakang. Aku tak ingin berbalik, berpaling. Cukup kubaca bagian yang telah kulalui, tak ingin ku sentuh lagi."

"Dan besok adalah hari ulang tahunku, aku anggap kertas-kertas ini adalah lilin-lilinnya. Aku membakar dan meniupnya berulang-ulang. Aku berfikir, manusia tak akan bisa merubah masa lalunya, manusia hanya bisa memperbaikinya di masa kini dan masa depan."

"Aku hanya memperbaiki kekosongan, kebodohan, dalam jurnal ini. Aku tak bisa merubahnya, itu berarti kebohongan dan kebodohan yang lebih tolol lagi bagiku. Maka dari itu aku membakarnya. Aku harap semuanya dapat... setidaknya... terlihat lebih baik dari kenyataannya."

Wanita itu hanya memandangiku, lalu ia berjongkok. "Hmm. Analogi yang cukup baik. Jadi kamu adalah tipe orang yang selalu lari dari kenyataan ya?"

'Tidak! Bukan begitu!' Ah, sial. Aku tak bisa berkata-kata. Perlawananku berkahir di tenggorokan yang tersedak ini. Aku hanya tertegun memandangi wanita itu.

Dia berkata lagi sembari tersenyum dan berdiri "Jangan membantah. Pada dasarnya semua orang seperti itu. Tapi mereka memiliki kompensasi berbeda-beda untuk lari dari kenyataan. Tidak bisa disalahkan, sewaktu-waktu manusia memang memerlukannya. Tapi ingat! Carilah jalan untuk pulang ketika kamu berlari. Dan jangan sampai terlalu jauh! Hadapi dunia ini. Aku yakin, kamu, atau semua orang, pasti bisa menghadapi dunia ini. Tak perlu lari dari kenyataan. Carilah kompensasi yang lebih positif. Oke?"

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Aku tertunduk dan kembali membakar kertas-kertas itu.

Wanita itu berkata lagi "Baiklah, aku hanya bisa membantumu sebatas itu. Selanjutnya semua berada di tanganmu. Sampai jumpa kawan!"

Wanita itu mengakhiri kata-katanya sembari tersenyum simpul dan mengerling genit. Ia berlari meninggalkanku.

Tak sempat bertanya namanya atau layaknya suatu dialog perkenalan yang seharusnya. Ingin berterima-kasih sebetulnya. Tapi sudahlah, apa peduliku!
Kata-katanya benar, fikirku.

Aku selalu berusaha lari dari kenyataan. Sudahlah, hadapi saja.

Dan aku pun terus membakara kertas-kertas itu.

Damai...

Ya, aku merasakan kedamaian, ketenangan. Seakan beban-bebanku ikut terbakar dengan kertas-kertas itu.

Lari dari kenyataan? Entahlah. 'Masa bodoh!' pikirku. 'Biar kubakar kenyataan ini'.

"Happy birthday to me..." gumamku....


[ Bandung.  1400thu030112 ]

Lembayung Senja Sang Pengelana

Lembayung Senja Sang Pengelana

Lembayung senja bercerita
Tentang seorang pemuda pengelana
Ia berjalan menyusuri getir kehidupan
Menelan cacian, menjilat makian

Ia terus berjalan dengan angkuh
Wajah mendongak mata terbakar
Tak kecil hati ia menerjang hinaan
Wajah angkuh tetap terpampang

Hatinya merasa sepi, menjerit ia
Memecah kesunyian di ruang hati
Terkadang ia memohon ingin mati
Tapi ia tak ingin berakhir dipecundangi

Terus berjalan, ia menapaki
Menanti lembayung senja
Temannya di setiap hari
Yang bisa mengerti isi hatinya

- senja di atap rumah hangat itu bersamanya-
1700sat040712

Jumat, 06 April 2012

Apa yang direncanakan Tuhan?
Kita tidak akan pernah tahu sebelum menghadapinya.
Baik atau buruk, Tuhan pasti punya maksud.
Kita sebagai manusia hanya tinggal memikirkan dan menghadapinya se-bijaksana mungkin.

Rabu, 04 April 2012

Juliana

Juliana

Dia tersenyum, tertawa, bergembira
Tapi dia juga menyimpan luka
Luka dari cerita lama; tersirat dari matanya
Mata indah itu merekam kepedihan

Dia tersenyum, tertawa, bergembira
Seakan tak pernah ada luka
Luka lama, dari cerita lama
Selalu sama, sehingga terbiasa

Bagaimanapun dia tetap tersenyum
Harinya selalu dipenuhi tawa
Menyembunyikan luka, dia tetap bergembira
Tapi dimatanya tetap terbersit luka

Tetaplah tersenyum, tertawa
Mungkin denganku kau bisa tetap gembira
Matamu indah, lupakanlah luka
Tertawalah, lupakan luka lama

Tutuplah mata dan telinga
Biar ku kecup, agar kau lupa pernah terluka
Tersenyum, Tertawa selepas-lepasnya!
Bergembiralah, jangan ada luka, Juliana...

Senin, 02 April 2012

Kepala saya, dunia saya; yang tampak tidaklah nyata, semuanya fana...

Saya bukan penulis.
Saya tidak menulis sesuatu yang bagus.
Saya juga tidak mengakui tulisan-tulisan saya bagus.
Saya hanya bercerita.
Saya hanya mengatakan apa yang ingin saya katakan.
Saya hanya berceloteh, dengan diri saya sendiri, pikiran saya.
Saya seorang penyendiri, mungkin mereka bilang ini autis.
Saya lebih menikmati berbicara dengan diri saya sendiri, dengan kepala saya.
Seperti yang bertahun-tahun lalu, ketika kecil, saya pernah bertanya kepada Ibu saya:
"Ma, kenapa kepala saya berbicara sendiri kepada saya?"
Entah ini baik atau buruk, tapi saya menikmatinya...

Kepala saya, dunia saya; yang tampak tidaklah nyata, semuanya fana...

Bunga pandan yang harum

Bunga pandan yang harum

Bunga pandan yang harum.
Pernah mengisi ruang kosong.
Menebarkan harumnya.
Sesaat; tak kumiliki, hanya kucium wanginya.

Bunga pandan yang harum.
Tetap sempurna bagaimanapun juga.
Tak peduli orang berkata; dia tetap mekar
menebarkan keharumannya; mempesona!

Minggu, 01 April 2012

Bukan Tembok!!

Bukan tembok! Kasar dan keras.
Tembok itu dingin dan angkuh!
Bukan tembok! Sulit untuk dihancurkan.
Tembok bukan untuk dihancurkan!

Jika ia tembok, maka bukan seperti itu menghadapinya.
Jika ia tembok, tak ada kelembutan.
Jika ia tembok, tak ada kehangatan.
Jika ia tembok, ia akan berbalik menghancurkanmu!

Ia adalah pintu! Menyimpan banyak cerita dibaliknya.
Menunggu untuk dibuka.
Menunggu untuk seorang pengelana dengan cerita
turun dari kudanya; mengetuk dengan lembut.

Ia memang seperti pintu! Dingin, angkuh, keras!
Tapi tampak indah, mempesona!
Diukir oleh Pemahat Agung!
Buah karya cinta manusia.

Ia selayaknya sebuah pintu! Pintu kayu yang hangat!
Tidak harus mendobraknya dengan keras.
Pintu, menunggu untuk diketuk agar terbuka.
Pintu terbuka untuk orang yang datang dengan kebaikan.

Pintu itu pernah terbuka! Ya! Pintu indah itu!
Dibuka paksa kemunafikan.
Dibuka paksa seorang bocah yang menenteng salvo.
Diracuni kebusukan dan kebohongan.

Pintu indah itu tergores. Pintu itu menyimpan luka.
Bocah dengan salvo itu membiarkannya terbuka.
Dan memaksa kembali untuk membukanya
ketika orang-orang silih berganti datang mencoba menutupnya.

Dan ketika pintu itu sedang tertutup.
Seorang pengelana dengan kudanya dan cerita di bahunya.
Datang mengetuk, mencari tempat berlindung;
Ia mengiingikan sebuah rumah. Tempat ia bisa pulang!

Sang Pengelana mencoba merawat pintu itu.
Ia mencoba menutup rapat; merawat sebaik mungkin.
Meskipun bocah dengan salvo itu,
Kerap kali datang mengetuk.

Sang pengelana berharap pintu tetap tertutup.
Berharap pintu itu tetap angkuh dan dingin.
Berharap pintu itu tidak terbuka sedikitpun.
Sehingga bocah dengan salvo itu tak masuk lagi; menghancurkan.

Bukan tembok! Melainkan sebuah pintu!
Tidak kasar dan dingin! Melainkan hangat dan indah!
Tidak harus di dobrak! Ketuk saja, ia akan terbuka!
Bukan! Memang bukan tembok! Tapi pintu!

Tetaplah tertutup! Seorang pengelana sedang menulis sebuah cerita.
Lindungi pengelana itu, tetaplah tertutup rapat!
Kelak pintu itu akan menjadi senyum pagi; untuk sang pengelana.
Kelak pintu itu akan menjadi pintu keluar; ketika sang pengelana diarak menuju pusara nya.

Tidurlah!

Dia dan dunianya.
Dia dan masa lalunya.
Dia dan apa yang sudah dilaluinya.
Dia dan lukanya.

Semoga sekarang semuanya baik-baik saja.
Semoga kau terbangun dari mimpi burukmu.
Semoga aku bisa menjadi bantalmu yang baru.
Selayaknya sebuah bantal bulu terbungkus sutra.

Menyangga semua beban harimu.
Membuyarkan mimpi burukmu.
Membuatmu tertidur pulas.
Damai terbuai kelembutan dan kehangatan.

Tidurlah...

Harta? Tahta? Wanita? [ Hanya sembarang berceloteh ]

Apa yang kau cari? Harta? Tahta? Wanita?

Manusia. Terutama pria. Hidup untuk berkompetisi. Sejak zaman dahulu, sejak awal sejarah manusia tercatat. Sejak Qabil dan Habil saling berebut calon istri untuk mereka dan akhirnya yang satu di bunuh oleh yang lain. Sejak Nabi Adam diciptakan Tuhan. Sejak setan menolak untuk bersujud. Sejak itu...
Berkompetisi, berusaha menjadi yang terbaik. Saling berebut.

Pria, dihadapkan 3 cobaan: Harta, Tahta, Wanita.
Tuhan memberikan 3 pilihan itu.
Mana yang akan dipilih?
Oleh yang mana akan kau akan dihancurkan?

Oleh Harta? Sehingga kau mengorbankan Tahtamu -martabatmu- dan Wanitamu?
Oleh Tahta? Walaupun kau mengorbankan Hartamu, dan meninggalkan Wanitamu?
Atau oleh Wanita? Yang pada akhirnya Harta dan Tahtamu hancur lebur tak bersisa?

Tak ada kesempurnaa. Tak ada kepuasan...

Itulah manusia. Tak pernah puas!
Selalu merasa kurang; Tak pandai bersyukur.

Sejarah banyak mencatat orang-orang -terutama pria- yang hancur oleh salah satu, dua, bahkna ketiganya.
Itulah yang harus direnungkan oleh kita sebagai manusia. Terutama kaum pria.
Pandai-pandailah melangkah.
Bijaksanalah dalam menghadapi segalanya.
Dan terimalah, suatu saat kita akan terbuai oleh salah satunya. Dan mungkin akan hancur jika kita tidak se-segera mungkin berpaling dan bersujud.

#hanya berceloteh sembarangan

Sabtu, 31 Maret 2012

Dunia berputar, kita tak kuasa menghentikan.
Tapi tak ada salahnya kita memohon dan berusaha agar kita tetap mengorbit mengikuti alurnya.
Seiring sejalan. Menghindari sisi gelap dunia.

Hanya kusimpan dalam draft...

Tuhan memang Maha bijaksana.
Mempertemukan kita disaat mata sudah terbuka.
Mereka sebut ini dewasa.
Aku sebut ini buah tangan seorang pengelana.

Memang sudah suratan, dan aku percaya.
Tuhan menamparku dengan cobaan dan godaan.
Memupuk mentalku dengan apa yang dihadapi.
Membuka mata dan hati dengan apa yang dijalani.

Hingga saatnya Tuhan mempertemukan.
Menyatukan ketika "Tulus" diucapkan dalam artian sebenarnya.
Bukan hanya syair dan puisi indah layaknya pujangga mencinta.
Tulus dalam artian dan ungkapan sebenarnya.


Selalu: Ketika sesuatu itu ada, kita sering tidak menyadarinya. Menganggap itu hanya hal biasa saja. Bahkan berpaling mencari ketiadaan.

Tapi ketika sesuatu itu benar-benar hilang, hanya sesal yang tersisa; Tak bisa memanfaatkan waktu yang diberikan sebaik mungkin.

Maka, jagalah hal yang kau miliki sebaik mungkin, maksimalkan, seakan kau akan mati esok hari, sebelum terlambat. Sebelum benar-benar hilang dan tak bisa kembali.

- Aku, Kamu, Dia, Mereka; pasti pernah dan akan mengalaminya -
"Angka adalah Mahakarya Sang Kuasa. Di dalamnya terdapat Mahakarya bahasa yang tersembunyi & di kode-kan dengan amat sangat jenius. Dari satu menjadi ribuan kata & makna."

#Pengagum Tuhan

Tri-Komposisi

Satu merepresentasikan titik. Ada tapi tak tampak. Tak tersentuh ataupun terlihat oleh mata. Imajiner.

Dua merepresentasikan garis. Membagi & memisahkan. Baik & buruk. Suatu kesinambungan yang membangun aspek kehidupan. Kontinu. Tak tersentuh tiga. Dikendalikan oleh satu.

Tiga merepresentasikan sebuah bangun. Penggabungan titik & garis. Nyata & tampak jelas oleh mata. Sebuah bentuk nyata pertama yg terlihat mata manusia. Tiga mengandung dua didalamnya yg menjadikannya berkarakter.
Dan dari situ ia menuju satu.

"Tri-Komposisi" #RRNM

Selasa, 20 Maret 2012

Aku dan Penaku

Munafik jika saya mengatakan "tidak ingin membuat suatu tulisan yang bagus, yang penting berasal dari hati".
Ya, saya sangat ingin bisa membuat tulisan yang bagus. Tapi tentu saja tidak hanya bagus, tapi juga bermanfaat, mencerahkan, menggugah orang-orang, dan tentu saja, mewakili dan menggambarkan apa yang benar-benar saya fikirkan dan rasakan.
Sangat munafik juga jika saya mengatakan tidak ingin mendapat pengakuan. Bukan dengan materi atau berupa penghargaan tentunya. Tapi pengakuan dari orang-orang dengan membaca tulisan saya, dan bisa berguna untuknya.

Apa yang saya tuliskan.
Apa yang saya curahkan.
Apa yang saya fikirkan.
Apa yang saya rasakan.
Belum cukup untuk mendapatkan semua itu.
Belum bisa dikatakan sempurna.
Jangankan untuk semua itu, untuk bisa dikatakan "cukup bagus" pun saya rasa masih terlalu jauh, masih mentah.

Ya, itulah diri saya. Masih mentah!!
Tapi saya selalu belajar dan berusaha terus untuk bisa melakukannya menjadi lebih baik.
Penulis, pengarang, atau entah apapun sebutannya. Bukan tujuan saya. Karena sebetulnya jauh dari studi utama saya.
Kembali ke awal, dasarnya, saya memang suka membaca. Dan saya berusaha bersahabat dengan kertas dan pena untuk mencurahkan apa yang saya fikirkan dan rasakan (mungkin jika dalam blog ini, rentetan bilangan biner yang mewakili setiap susunan huruf menjadi kata dan kalimat).

Tujuan saya? Membuat sesuatu yang, mungkin, dan mudah-mudahan, bisa berguna. Baik untuk diri saya maupun orang lain.

Itulah aku, dan penaku.

Senin, 19 Maret 2012

Birokrat tetap saja birokrat.
Tetap seperti itu.
Dengan atau tanpa baju besinya.
Semanis apapun mereka berceloteh.
Klise...
Tetap kujawab dengan ludahku...
Aku tahu bagaimana cara mereka mentertawakanku.
Terbayang olehku tawa bodoh memuakkan itu.
Merobek telinga hingga hati ini.
Haruskah kupedulikan?
Masa bodoh!; Pikirku.
Akan terus kugoreskan pena ini meski harus bertinta darah.
Tak akan kututup dan kubakar jurnal ini.
Ini aku! Sepertinya aku lebih ber-nyali dan tidak bodoh sepertimu!

Jumat, 16 Maret 2012

rumah itu.yang dulu diselimuti kebahagiaan.kini kosong.berdebu.gelap.tak hanya pemiliknya,orang melewatinya pun merindukan kebahagiaan yang ada di rumah itu.akankah semuanya kembali?
Terasa menyesakkan, ketika di hadapkan dengan kenyataan.
Kehidupan memang keras. Kehidupan memang menyebalkan.
Tapi inilah yang sudah di berikan. Baik atau buruk, kita hanya bisa menjalaninya.
Hingga akhirnya mati. Tujuan akhir dari hidup ini.
bukan di puncak gunung tertinggi ataupun di tengah samudra luas.
Tapi disini, di tempatku berdiri.
Sebuah kota besar dengan bangunan2 berhimpit,jalanan macet,polusi.

Matahari yang sama,langit yang sama.
Kepuasan,rasa syukur,memabukkan.

Andai mereka menyadarinya.
Dan berhenti sejenak.
Sekedar untuk menikmati dan bersyukur.
Inilah kehidupan.

Klise, ini untukmu!

klise.
dunia gelap.
terang pada saatnya.
mencoba melihat.

dalam cahaya temaram.
tangan mengais.
mencari.
tak ada yang di raih.

klise.
sejarah adalah sahabat.
menorehkan luka.
itu faktanya.

dalam cahaya temaram.
tangan meraup membabi buta.
apa saja yang terlihat.
tak ada yang berati.

klise.
sejarah menghantui.
memandikan dengan darah.
hanya terlihat, tapi tak dirasakan.

raihlah apa yang bisa diraih.
buang yang terlanjur terbuang.
bakar dengan semangat.
tenggelamkan saja.

klise.
cahaya itu masih ada.
temarampun karena luka.
berhenti membabi buta.

ini bukan surga
bukan pula neraka
ini dunia kita
biarkan darah mengalir dari luka, hingga kering.
dan mati.
dalam sebuah perang. permasalahannya hanya dalam pengambilan keputusan. siapa yang menang dan siapa yang kalah sama-sama terhormat. selama pertempuran itu fair. seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, meskipun harus ada yang di korbankan. dan terkadang sebuah keputusan harus diambil dalam keadaan2 sulit dan genting. seorang pemimpin, sehebat apapun, adalah manusia biasa. darah tetap akan tertumpah, baik milik kawan ataupun lawan, cepat ataupun lambat. semua hanya masalah waktu saja. baik itu sekarang, ataupun nanti. hidup, ataupun mati. sama saja. 
toh, kehormatan tetap milik mereka yang berperang dengan pertarungan yang adil.

Meludah (6)

Mereka anggap itu lelucon dan mentertawakan,
Mentertawakan kebodohan mereka sendiri.
Terlalu naif, munafik, memuakkan.
Hanya tinggal menunggu waktu untuk mereka berhenti tertawa dan merasakan pahit yang sama.
Ya, pengalaman memang guru terbaik.

Untuk Ibu

Wanita itu masih tetap cantik. Bahkan terlihat jauh lebih muda dari usianya.
Keceriaan tak lepas dari wajahnya. Senyumnya tetap mengembang.
Tak terlihat ada kegetiran hidup yang sebenarnya tersembunyi di lubuk hatinya.
"jalani saja, nikmati, Tuhan tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia"
nasihat yang sering ia berikan.
Seorang wanita kuat.
Dengan ketabahan luar biasa.
Selayaknya Tjoet Nyak Dien, Kartini, Mother Theressa, Putri Diana, Siti Maryam, atau wanita2 luar biasa lain yang tercatat dalam sejarah.
Seorang wanita bijaksana dengan semangat hidup luar biasa, telah mendampingi hidup saya selama ini.

Tetaplah tersenyum, Ibu..

Meludah (5)

Dewasa lah nak!
Hidup memang keras.
Terkadang kau rasa tak adil.
Pahit getir yang kau rasakan, rasakanlah!
Nikmati!
Menangislah!
Meraung!
Getarkan bumi ini dengan teriakanmu!

Lantas fikirkan setelah kau lelah menangis, meronta, dan berteriak!
Mungkin 10 tahun lg kau akan tersenyum ketika memikirkan hal yang telah kau tangisi itu.
Ilmu adalah jubahku.
Biarkan tubuh ini hanya dibalut kain lapuk.
Tak akan malu diri ini!
Cukup dengan ilmu, akan ku jelajahi dunia ini!
Mari bersimpuh dan merenungi diri ini.
Layak kah diri ini berada di Surga-Nya?
Masihkah ingin menikmati jadi orang fasik?
Jangan takut! Tak usah berpaling!
Terima saja. Itulah pilihanmu.
Benar ataupun salah.
Cukup lah menjadi fasik.
Jangan menjadi munafik.
Ada saatnya untuk bertaubat.
Cepat atau lambat.
Sempat ataupun tidak.
Setidaknya bukan munafik.
Ya! Terima saja!
Karena itu kenyataannya.

Meludah (4)

seperti Anjing.
Ditendang seperti anjing.
Ditindas seperti anjing.
Dikekang seperti anjing.
Dicaci seperti anjing.
Mereka bilang "sekali anjing tetaplah anjing! Mati saja kau anjing!"
Biarkan mati seperti ANJING daripada hidup menjadi TIKUS!

#pepatah bijak seorang pemuda sinting

Meludah (3)

Si kecil mengais-ngais hanya berusaha untuk melanjutkan hidup. Berlumuran peluh, terlunta-lunta.
Si besar dengan angkuh dan rakusnya meraup segala yang ada. Terbahak-bahak dibalik meja.

Ironis tapi inilah realita.

Janji manis mereka ketika mengemis suara tak ayalnya seperti nyalakan seekor ANJING kampung kudisan.
Dan buktinya? Seperti ANJING. Mereka berhenti menyalak ketika perut mereka penuh.
Mereka hanya bersembunyi di balik mejanya.

Dasar ANJING!

"Saudara di pilih, bukan di lotre"
sulit untuk tidak menjadi sentimen.
Tapi. Hey! Fikirkan lagi. Dengan sikapmu seperti itu, tampak seperti kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!
Fikirkan juga orang di sekitarmu!
Yaah. Saya hanya bisa minta maaf.
Tapi memang saya sedang ingin menenangkan diri.
Biarkan saya merebahkan tubuh ini dan memejamkan mata.
Semoga semuanya lebih baik ketika saya bangun.
Setidaknya kepala ini dingin.
Biarkan sejarah berlalu.
Tulislah jurnalmu ke depan.
Biarkan yang tlah lalu menjadi kenangan.
Jangan menjadi beban untuk masa depan.

Jadikan sejarah sebuah pelajaran.
Tak perlu disesali atau ditangisi.
Cukup jadikan sebuah kenangan.
Tak perlu dirindukan, atau kau terbunuh olehnya.
Perasaan merupakan hasil dari sugesti dalam otak manusia di luar kesadarannya. Di tambah dengan faktor hubungan sebab-akibat yang kontinu dan kompleks sehingga menciptakan apa yang disebut dengan "perasaan" itu. Jadi semua itu hanya sebuah sistem, tidak lebih.
Pada dasarnya, semua makhluk Tuhan itu baik. Tuhan tidak memberikan keburukan sedikitpun terhadap makhluknya. Kalaupun makhluk Tuhan terlahir dengan kekurangan atau kecacatan sekalipun, itu adalah suatu kasih sayang-Nya dalam bentuk lain. Manusia hanya perlu belajar untuk bersyukur, menerima, dan memikirkan arti hidupnya. Memikirkan setiap langkahnya ketika berjalan di muka bumi ini. Memikirkan perannya dilahirkan sebagai manusia.
Dunia ini tidak nyata, semuanya fana, suatu saat akan hilang.
Pupuklah, jaga baik-baik.
Nikmati sebelum mati.
Keabadian, hanya sebuah harapan.
Tapi tak ada salahnya berharap.

Meludah (2)

Mengungkapkan sebuah rahasia itu mengasyikkan.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan apa yang dicari.
Tapi tidak sedikit rahasia yang telah terungkap ternyata menyakitkan.
Terkadang memang rahasia lebih baik tetap terkubur, membusuk.
Itu lebih baik... Mungkin?

Meludah (1)

Motivator terbaik adalah pengalaman dari kehidupan kita sendiri.
Bukan orang sok tahu yang berbicara tentang omong kosong indahnya kehidupan.
Pengalaman hidup orang berbeda2.
Nasib yang diberikan berbeda2.
Tentu juga parameter tentang indahnya kehidupan berbeda2.

Si kaya bilang hidup indah itu berlibur di sebuah pulau dengan alamnya yang indah.
Si miskin bilang hidup indah itu bisa menghadapi hari esok tanpa dikejar kolektor dan anaknya tetap bisa sekolah.
Jadi omong kosong yang disebut motivasi seperti apa yang akan diberikan untuk keduanya?

#RRNM

Sebuah Cerita (1)

Sebuah cerita: "Seseorang berpenampilan necis, dasi dan jas mahal, kulit bersih terawat, dan mobil mewah menghampiriku dan berkata: 'nak, belajarlah sebaik mungkin agar kamu berhasil seperti saya. Dengan begitu hidup kamu akan bahagia.' dan dia pergi.

Lalu seseorang dengan penampilan lusuh, bau matahari yg menyengat, dan rambut gondrong awut2an duduk disampingku dan berkata: 'Banyak2 lah berjalan kaki menyusuri hidupmu nak. Karena hatimu akan kedinginan & terkunci di balik mobil mewah dan ruangan kantormu yang ber-AC."

#RRNM

Cukup Menjadi Api

Cukup menjadi api.
Biar terus berkobar dan terbakar.
Biarkan sekitarku terbakar.
Air selalu memadamkan kobaran api ini menjadi arang, tanpa membersihkannya.

Kobaran api ini berkali2 di sulut dan dipadamkan.
Air memadamkannya dengan indah dan manis.
Tapi selalu, klise. Tak ada pelangi setelahnya.
Hanya dibiarkan menjadi arang.

Cukup menjadi api.
Biarkan berkobar.
Indah, membakar. Tidak menghancurkan.
Hanya melelehkan besi-besi itu.
Mendidihkan setiap air sehingga menjadi uap.
Menjadi awan.
Hingga pelangi yang diimpikan itu tercipta.

Trilogi realita

Siapakah yang salah? Sistemkah yang harus dipersalahkan?
Apa diri ini yang salah? Atau dia? Atau mereka? Atau mungkin kami?

Mungkin memang ini yang disebut "sebab-akibat"
Yang kecil hanya mengais dan mengambil sedikit
Tak lebih hanya untuk tetap hidup

Dan yang besar dengan angkuhnya meraup semua
Rakus, mereka melahap segala yang ada
Tak peduli si kecil meronta, getir

Untuk itu Tuhan pun murka
Diberikanlah amarahnya, sedikit tiupan
Si kecil pun menangis semakin menjadi

Tuhan bermaksud baik
Mengingatkan si kecil untuk mengais tapi tidak merusak
Dan membuat si besar agar berbagi untuk si kecil

Idealnya seperti itu. Kenyataannya?

Si Kecil hanya meredam tangisnya, digantikan senyum getir
Si besar tetap saja angkuh, bersikap acuh tak acuh

Jadi siapakah yang patut dipersalahkan?
Apa benar Tuhan tidak adil? Itu tidak mungkin!

Sebuah Cerita dari Hati (2)

Terlalu banyak sakit dan perih yang kurasakan.
Terlalu banyak kehilangan yang sudah kualami.
Meskipun kehilangan kamu, aku tak akan menangis meronta.
Tak harus menjadi gila.
Biarkan saja. Lepaskan. Terbang entah kemana.
Aku tak akan terlalu peduli. Tak akan kutangisi.
Aku sudah berteman dengan rasa sakit.
Seperti meminum arak atau menghisap ganja.
Kunikmati meski pahit. Kuresapi meski sakit.
Dan aku masih tetap tertawa lepas setelahnya.
Aku menyukai rasa sakit! Ya! Mungkin seperti itu!
Seperti candu? Mungkin...
Seakan seperti kunanti-nanti. Seperti kuharapkan.
Rasa sakit itu selalu aku bayangkan.
Dalam lamunan, tidur, atau bahkan sadar sepenuhnya.
Rasa sakit itu seperti sedang kualami, karena aku menginginkannya!
Aku mendambakan dan mengharapkannya!
Mungkin orang akan berkata aku sudah gila. Biarlah!
Karena bahagia itu naif menurutku!
Dan kepedihan adalah realita!
Rasa cinta sebenarnya!

Sebuah Cerita dari Hati (1)

Memuakkan! Orang itu bermanis-manis di depan, meludahi di belakang.
Membicarakan keburukan keluarga dan temannya sendiri kepada orang lain.
Benar-benar orang lain!!!
Bukan siapa-siapa!
Tak sedikitpun memiliki hubungan darah dengannya. Apa yang dia inginkan?

Ya ampun! Aku? Ya! Aku pun melakukan hal yang sama. Tapi aku membicarakan kepedihanku! Menceritakan apa yang aku rasakan!

Ingin rasanya kuseret kaki ini! Berlari dan keluar dari tempat ini!
Melempar semua barangku.
Entah kemana! Entah jatuh dimana! Biarkan berceceran!

Akupun tak tahu kemana tujuan hidupku!
Biarkan saja kuikuti kemana kaki ini ingin melangkah!

Aku bercinta dengan kesintingan!

Nyeri tak terperi
Jilatlah dan nikmati
Kepedihan bukan untuk ditangisi
Luka membusuk itu nikmat!

Jilatlah dan nikmati!
Hingga mabuk!
Bukan anggur atau arak
Tapi luka yang tak tampak

Tak usah kau berteriak!
Meskipun seisi dunia mendengar
Belum tentu mereka peduli
Jilat saja! Nikmati! Tertawa!

Sinting; Pikir mereka
Ya! Dunia memang sudah sinting!
Dan aku bukan orang yang naif
Aku bercinta dengan kesintingan ini!

Idealisme, realita?

Malam tak selamanya gelap
Siang tak akan selalu terang

Hingga saatnya tiba
Aku tetaplah aku, tak akan ada yang berubah...

Antara idealisme... dan realita...
Idealisme bukan hanya milik orang yang berjalan di atas...
Begitu juga dengan realita... tak bisa selalu dipaksakan pada dia yang merangkak...

Jalani saja hidup ini
Seberat apapun
Seperih apapun
Meski harus berceceran darah...

"Semua akan indah pada saatnya..."

Ya! Hingga saatnya tiba....
Aku, tetaplah aku... Tetap diri ini....

Rumah

Rumah


Rumah bukan hanya sekedar tempat untuk tinggal, menetap, menjadi identitas.
Rumah bukan hanya sekedar tempat untuk berlindung diri dari panas matahari dan deras hujan.

Rumah adalah tempat dimana kita bisa merasa nyaman.
Tempat untuk memulai dan mengakhiri.

Sebuah poros...

Dimana orang yang mencintai dan kitai cintai menunggu...
Sebuah tujuan, ketika sudah lelah melangkah atau terlalu jauh...




Rumahku bukanlah tempat dimana aku menetap dan berdiam diri...
Rumahku adalah tempat dimana kaki dan hati ini berpijak...
Karena disitulah aku merasakan kedamaian sesungguhnya...
#RRNM

Lantunan si pengembara

Lantunan si pengembara
Hidup adalah perjuangan
Mengembara, mencari
Meskipun hanya berjalan
Menyusuri trotoar

Sejatinya hidup memang
Sebuah petualangan
Perjalanan mencari
arti keberadaan diri

Berjalan di muka bumi
Hidup, hanya sebatas itu kah?
Lantas apa sebetulnya?
Pertanyaan bodoh!!

Tatap cermin itu! lihat sosok yang ada di dalamnya
Siapakah dia?
Apa yang sudah dapat dia berikan?
Apakah dia benar-benar hidup?

Tetaplah tersenyum

Biarkan aku melihat senyum itu, jangan berpaling!
Tapi benamkan wajahmu di dadaku ketika kau menangis.
Dan angkat kembali ketika senyummu telah kembali.
Karena aku suka senyum itu!
Aku cinta tawa itu!

to: Keny Juliana

Wanita

Wanita adalah makhluk lembut, indah, mistis.
Tetapi dapat menyesatkan dan menghancurkan!
Maka cintailah mereka dengan bijaksana!

Pena dan Kertas

Sulit menemukan teman yang bersedia dengan senang hati untuk mendengarkan semua omong kosong saya.
Kertas dan pena. Ya! Hanya 2 hal itu yang bisa di andalkan!

Semua omong kosong saya dapat tercurahkan tanpa harus memandang wajah lelah, pemotongan pembicaraan, penentangan, ataupun kabur karena merasa kupingnya sudah panas mendengar semua omong kosongku ini.
Tapi jika pena dan kertas ini hidup, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama?
sudahlah..

Tetaplah menjadi benda mati wahai pena dan kertas, setidaknya pemuda galau penuh mimpi dan kelelahan seperti saya masih memiliki teman untuk ber-"omong kosong" ria!

Si Kurus

Kepala ini seakan terlalu sempit untuk menampung gumpalan yang ada didalamnya.
Gumpalan pink berlendir ini terus berdenyut.
Begitu keras. Entah berapa liter darah yang dipompa terus menerus ke dalamnya.

Mungkin itu yang membuat saya tetap kurus-kering meski 4 sampai 5 kali waktu makan dalam sehari dan porsi double.
Entah terkuras kemana semua nutrisi itu.

Tulisan pertama, sebuah pembuka

Tulisan pertama, sebuah pembuka.

Katakan ini adalah sebuah jurnal.
Dan blog ini adalah pengarsipan dari jurnal kehidupanku.

Menulis mungkin bukan kegiatan yang baru untuk saya. Disamping saya hobi membaca buku, saya terkadang menulis sedikit. Puisi, sajak, sekedar quotes, lirik, cerpen, atau apapun itu.
Kebanyakan hanya untuk konsumsi diri. Dan media ekspresi ketika tidak ada teman untuk di ajak bertukar pikiran.

Saya bukan seorang penulis handal. Sejak dulu belum pernah serius mempelajari sastra. Hanya dari kegemaran saya membaca, saya mendapatkan sedikit banyak ilmu, terutama mengenai sastra.

Menulis hanya kegiatan sampingan dan media ekspresi saja untuk saya. Syukur bila ada yang bisa menikmati tulisan saya, jika tidakpun, biarkan ini menjadi catatan sejarah untuk saya sendiri.

Minat saya pada teologi, teknologi, sains, sastra, musik, lukisan, foto, sejarah, dan filsafat. Saya sangat senang bila ada yang ingin berbagi ilmu dan bertukar fikiran tentang hal-hal itu. Karena saya yang masih teramat bodoh ini selalu haus akan ilmu.

Dan fikiran-fikiran yang saya curahkan disini semoga dapat berguna, minimal untuk diri saya dan orang terdekat saya. Dan saya akan sangat senang bila dapat berguna untuk orang lain. Dan ada yang bisa menikmati setiap kata nya.

Tak banyak kata yang ingin diucapkan dalam sebuah pembuka.
Semoga harapan dan tujuan saya tercapai.
Amin.

Ceritakan duniamu lewat tulisanmu...
-pesan seorang sahabat-