Selasa, 10 April 2012

Jurnal Yang Terbakar

Jurnal Yang Terbakar

Bandung, 1 Maret 2012
14.00
Matahari masih terus bersembunyi di antara awan gelap itu.


Aku duduk di pekarangan rumah kakekku itu. Tempat dimana aku sebut "rumah" ketika orang-orang bertanya dimana aku tinggal.

Aku membuka-buka jurnalku, membaca tiap halamannya dengan seksama. Kadang tersenyum sendiri, atau kesal sekesal-kesalnya. "Siapakah orang tolol yang menulis dan mengalami hal-hal semacam ini?" mungkin orang akan bertanya seperti itu. Masa bodoh!

Disitulah kutuangkan semuanya. Pikiran-pikiranku. Omong-kosongku. Celotehanku. Cacianku.Gambar-gambarku.

Aku mulai membakar beberapa halaman, membakar ruang-ruang kosong yang ada dalam halaman itu. Aku memperhatikan pola-pola yang terbentuk. Memperhatikan api membakar lembaran-lembaran itu.

Tanpa disadari seorang wanita menghampiriku. Dia memperhatikan sebentar dari balik teralis besi pagar halaman rumah.

Lalu dia bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku memandanginya. Sesaat naluriku sebagai lelaki muncul. Ia memang seorang wanita yang sangat menarik. Kulit putih bersih, mulus, badannya ramping berisi, rambut hitam panjang. Matanya bulat indah bercahaya. Dan bibirnya itu! Jika aku binatang, sudah kucabik bibir itu dengan gigiku.

"Hey? Ada apa denganmu? Apa yang sedang kau lakukan itu?" Suara manjanya itu membuyarkan fantasi sesaatku itu. 'Bodoh' kataku dalam hati, 'basa-basi bodoh'.
"Membakar kertas. Lihat?" Jawabku ketus. Aku suka wanita cantik, tapi malas menghadapi wanita bodoh.

"Aku tidak bodoh! Aku tahu kamu sedang membakar kertas!" WAnita itu mendekat. Terlihat jelas kejengkelan di wajahnya itu.

"Untuk apa kau membakar kertas-kertas itu? Dan yang aku lihat, kau tidak membakar habis semuanya, kau seperti membuat suatu pola dari api itu. Untuk apa?" Suara manja menggemaskan itu terdengar menjengkelkan untukku. Ditambah pertanyaan yang bertubi-tubi yang sebenarnya semenjak tadi aku tanyakan juga pada diriku sendiri.

Aku menghela nafas panjang. Dan mengangkat kepalaku memandang wajahnya. Mata kami saling bertemu.

'Sial!' ucapku dalam hati 'Setan sedang tertawa terbahak!'.

Akupun kembali membakar kertas-kertas itu sambil menjawab pertanyaannya: "Ada banyak ruang kosong dalam halaman-halaman di jurnal-jurnalku ini. Aku benci kekosongan, kebodohan. Aku hanya berharap dengan sedikit membakarnya bisa menyelesaikan, bisa mengisi kekosongan itu, kebodohan itu. Mengerti?"

Wanita itu hanya memperhatikan, lalu menyembulkan kepalanya di antara pagar supaya bisa melihat lebih jelas.

"Kenapa harus membakarnya? Kenapa tak kau tulis beberapa kata lagi saja? Atau kau gambar sesuatu mungkin? Lebih baik menurutku daripada harus kau bakar."

Aku terdiam sejenak sembari terus membakar kertas-kertas itu.

"Belakangan ini, hidupku seakan beralih ke dalam jurnal ini. Aku menulis jurnal ini ke depan, bukan ke belakang. Aku tak ingin berbalik, berpaling. Cukup kubaca bagian yang telah kulalui, tak ingin ku sentuh lagi."

"Dan besok adalah hari ulang tahunku, aku anggap kertas-kertas ini adalah lilin-lilinnya. Aku membakar dan meniupnya berulang-ulang. Aku berfikir, manusia tak akan bisa merubah masa lalunya, manusia hanya bisa memperbaikinya di masa kini dan masa depan."

"Aku hanya memperbaiki kekosongan, kebodohan, dalam jurnal ini. Aku tak bisa merubahnya, itu berarti kebohongan dan kebodohan yang lebih tolol lagi bagiku. Maka dari itu aku membakarnya. Aku harap semuanya dapat... setidaknya... terlihat lebih baik dari kenyataannya."

Wanita itu hanya memandangiku, lalu ia berjongkok. "Hmm. Analogi yang cukup baik. Jadi kamu adalah tipe orang yang selalu lari dari kenyataan ya?"

'Tidak! Bukan begitu!' Ah, sial. Aku tak bisa berkata-kata. Perlawananku berkahir di tenggorokan yang tersedak ini. Aku hanya tertegun memandangi wanita itu.

Dia berkata lagi sembari tersenyum dan berdiri "Jangan membantah. Pada dasarnya semua orang seperti itu. Tapi mereka memiliki kompensasi berbeda-beda untuk lari dari kenyataan. Tidak bisa disalahkan, sewaktu-waktu manusia memang memerlukannya. Tapi ingat! Carilah jalan untuk pulang ketika kamu berlari. Dan jangan sampai terlalu jauh! Hadapi dunia ini. Aku yakin, kamu, atau semua orang, pasti bisa menghadapi dunia ini. Tak perlu lari dari kenyataan. Carilah kompensasi yang lebih positif. Oke?"

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Aku tertunduk dan kembali membakar kertas-kertas itu.

Wanita itu berkata lagi "Baiklah, aku hanya bisa membantumu sebatas itu. Selanjutnya semua berada di tanganmu. Sampai jumpa kawan!"

Wanita itu mengakhiri kata-katanya sembari tersenyum simpul dan mengerling genit. Ia berlari meninggalkanku.

Tak sempat bertanya namanya atau layaknya suatu dialog perkenalan yang seharusnya. Ingin berterima-kasih sebetulnya. Tapi sudahlah, apa peduliku!
Kata-katanya benar, fikirku.

Aku selalu berusaha lari dari kenyataan. Sudahlah, hadapi saja.

Dan aku pun terus membakara kertas-kertas itu.

Damai...

Ya, aku merasakan kedamaian, ketenangan. Seakan beban-bebanku ikut terbakar dengan kertas-kertas itu.

Lari dari kenyataan? Entahlah. 'Masa bodoh!' pikirku. 'Biar kubakar kenyataan ini'.

"Happy birthday to me..." gumamku....


[ Bandung.  1400thu030112 ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar